Sabtu, 31 Januari 2015

RENUNGAN



JANGAN ABAIKAN INI!! !                          
“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepada-ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu. hanya kepada-ku-lah kembalimu.”
                                      (QS.Luqman: 14)

Selama masa Sembilan bulan, itu bukanlah saat-saat yang mudah atau ringan, ada banyak keluhan yang aku harus hadapi dan aku tanggung dengan penuh kesabaran. itulah yang harus di tanggung seorang perempuan yang kelak disebut dengan panggilan ibu, bunda, ummi, mamak, atau mom dan sebagainya. aku terus menyimpan bayangan yang serba indah tentang buah hati yang akan segera lahir kedunia. betapa indahnya ketika si kecil terlahir dengan bentuk yang utuh, lucu dan menggemaskan. betapa bahagianya ketika aku menyusui si kecil, memeluknya dalam dekapan kehangatan, dan menggendongnya hingga ia terlelap dalam tidur. betapa berharganya seorang anak yang akan merawat dan menyayangi aku ketika aku sudah lanjut usia, ketika aku tidak lagi bisa berjalan, dan ketika aku tidak bisa mengenali siapapun.
Kehidupanku terasa sangat sempurna, ketika anak pertama yang aku tunggu-tunggu terlahir kedunia dalam keadaan sehat. wajah yang lucu, kulit yang masih merah, bibir yang masih tipis menagis dipelukanku. aku tak bisa membendung air mata yang keluar karena ia terlahir dengan normal dan begitu sempurna di mataku. detik-detik melahirkan, aku menangis, meraung, menjerit, hingga hilang perih dan sepi. tetapi semua yang aku rasakan hanya ada satu, anak ku bisa selamat. hanya itu kata yang ingin ku ucapkan kepada semua orang yang ada dirumah sakit, tapi aku tidak bisa berbicara karna rasa sakit. karna rasa sakit itu, sudah menghantui ku sejak berjam-jam yang lalu.  sejak malam mulai dingin, sejak jalan mulai senyap. disitu aku merasakan sakit yang bertambah-tambah, sakit yang menyusuk-nyusuk ubun-ubunku. aku pendarahan hebat saat itu, sampai-sampai semua orang merasa cemas dan pucat di ruang tunggu.
“Selamat buk, anak ibu laki-laki yang sehat” kalimat ini yang ingin selalu aku dengar dan kurekam dalam memori otak, karna aku tidak ingin menghapusnya apalagi melupakannya. semua rasa sakit yang kurasakan berjam-jam yang lalu, semuanya telah sirna. tangisan bayi yang lucu dan mungil, membuat rasa sakit ini terobati.

SAKIT
Rasa sayang ini takan pernah hilang ataupun bisa tergantikan dengan yang lain. ketika si kecil  menagis di sepertiga malam, aku kuatir dan merasa takut dengan anak ku. sampai-sampai aku tidak bisa tidur hingga petang merambat keluar jendela. ku ambil obat dan ku kompres badanya yang hangat. sedikitpun rasa kesal dan benci tidak pernah terlintas dalam pikiran, yang ada hanya rasa sayang dan sayang yang terlalu besar. aku tau, badan ku juga tidak sehat. setiap malam aku harus bergadang demi si kecil, setiap malam aku bernyayi demi mereda tangisan-nya.
Malam terasa siang ku rasakan. ku merawat dengan penuh amanah sang pencipta, membelai dengan kasih sayang dan pengorbanan. tak ku hiraukan arah angin yang kadang-kadang berubah-ubah.

BERANJAK BESAR
Ketika pagi datang, aku dengan sigap membuka mata secepat kilat. aku tidak mau sedetikpun terlambat bangun dan membuat serapan untuk anakku. si kecil, bukanlah si kecil lagi. ia sekarang sudah tumbuh dewasa. ketika beranjak lima tahun, aku daftarkan ia di sekolah playgroup. aku berharap ia lebih pintar dan lebih tinggi derajatnya dari aku saat ini. ketika hari pertama masuk sekolah, aku harus menunggui dari mulai hingga selesai kelas, karena tidak semua anak yang mau di tinggal begitu saja di sekolah ketika hari pertama sekolah. belum lagi ketika ia rewel, ngambek, dan nangis ingin pulang saja, atau tidak mau sekolah. dengan kesabaran aku terus membujuknya supaya ia mau masuk sekolah. padahal, itu semata-mata untuk masa depanya, bukan untuk aku.
Ketika aku berjalan-jalan di taman, ia selalu mengulang-ulangi permintaan-nya, yaitu meminta balon. ia mengulangi permintaan itu sampai aku harus  membelikan-nya. ketika ia bertanya tentang sesuatu yang tidak ia tau, ia akan bertanya pada ku berulang-ulang kali. pernah terlintas rasa kesal, akibat selalu mengulang-ulang jawaban yang itu-itu saja. tapi rasa itu aku buang jauh-jauh kedasar jurang lalu aku pendam. ketika ia beranjak dewasa, aku selalu menanamkan budi pekerti, cara bergaul yang baik dengan temanya, guru, dan orang lebih tua darinya. itu semata-mata agar ia memjadi anak yang baik.

RENUNGAN
kalian semua adalah pemimpin (penggembala) dan akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya atas pimpinannya. seorang lelaki adalah pemimpin bagi istrinya, kelak akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya, seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, kelak akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari-Muslim). dari hadist di atas, terpancar jelas bahwa seorang ibu tidak hanya mengemban tugas mengandung, melahirkan, dan menyusui selama dua tahun. tetapi lebih lengkap, yakni merawat, menjaga, sekaligus mendidiknya. tanggung jawab itu mungkin terasa berat, tetapi itulah keistimewaan yang dikaruniakan Allah kepadanya, dibanding dengan makhluk-makhluk yang lain. Allah juga memberi kelebihan berupa surga di telapak kakinya, yakni bagi anak-anaknya. ibu melakukannya dengan ikhlas tampa terpaksa
sampai saat ini, sudahkah kita membalas budinya?
sudahkah kita membahagiakannya?
betapa tidak baiknya, jika kita kadang marah kepadanya, atau membantah perintahnya. betapa durhakanya jika kita menyakitinya atau membuatnya menitikkan airmata karena ulah kita. “barangsiapa yang merelakan diri terhadap kedua orang tuanya berarti ia rela (senang) terhadap Allah, dan barangsiapa yang memarahi kedua orang tuanya maka ia seperti memarahi Allah.”(HR. Bukhari).

MENIKAH
Ketika kamu menikah, aku merasa kesepian disini. berteman dengan sepi dan dingin. kemanahkah kamu sekarang, aku disini merindukanmu, merindukan tangisan mu, tertawaanmu, dan sifat ngambekmu. apa kamu lupa dengan aku, tapi mana mungkin kamu bisa lupa dengan aku. pasti kamu sibuk atau sedang ada kerjaan disana. aku hanya berharap, jangan lupa pulang kerumah.
Dan ketika aku berjumpa dengan mu, dan tinggal bersamamu. aku merasa sangat senang, sekarang kamu sudah sukses dan mempunyai seorang anak yang sekaligus menjadi cucuku. tapi kenapa kamu sedikit berubah padaku. sekarang kau terlihat lebih kasar, kalau sedang pulang kerja. mungkin kamu kecapean atau sedang ada masalah di kantor.
Maafkan aku yang selalu memecahkan piring saat aku sedang makan, karna tanggan ku tidak lagi kuat memegang piring yang terlalu berat. dan maafkan aku yang selalu menggulang-ngulangi pertanyaan yang itu-itu saja, karna aku sudah banyak yang lupa. aku senang bisa bermain dengan cucu-cucuku, walau menantuku selalu melarangku untuk dekat dengan anaknya, karna aku bau. aku bau bukan aku kotor, aku bau karna aku tidak tahan saat mandi, karna airnya terlalu dingin yang menyusuk-nyusuk kulitku.
Kamu masih ingat gk, saat itu kamu meminta balon di taman. kamu selalu menari-narik celanaku, sambil meminta berulang-ulang, sampai aku membelikanya, baru kamu diam. dan kamu masih ingat gk, ketika kamu tidak mau makan dan kamu berlari-lari. aku berusaha mengejar kamu, hanya untuk sesendok nasi yang masuk kemulutmu. sekarang kamu sudah besar dan memiliki seorang anak, aku hanya berharap didiklah anak mu dengan kasih sayang, sebagaimana aku menyayangimu sewaktu kamu masih kecil.

RENUNGAN II
dari abu hurairah ra. ia berkata: seorang laki-laki bertanya kepada rasulullah saw., “ya rasulullah! siapa dari keluargaku yang berhak atas kebaktianku yang terbaik?” beliau menjawab, “ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian baru bapakmu, kemudian yang terdekat denganmu, yang terdekat!” (HR. Muslim).
Dari hadist diatas menjelaskan, bahwa kebaktian kita semasa hidup kita tujukan terutama kepada ibu kita lalu ayah kita, kemudian yang terdekat dengan kita. subhanallah, betapa mulianya ibu dan ayah. kita wajib berbakti kepada sosok mulia yang tampa perantaranya kita tak akan terlahir di dunia ini. sampai-sampai berbakti kepada ibu dan ayah hukumnya wajib. sebanding dengan kewajiban shalat, zakat, dan puasa. bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa berbakti kepada ibu dan ayah sebanding dengan menyembah Allah swt. “Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu-bapak dengan sebaik-baiknya.”(QS. al-Isra’:23). Abdullah bin amru bin ash ra. menceritakan, bahwa seorang lelaki datang menghadap Muhammad rasulullah saw. lalu lelaki itu berkata, “aku bai’at (berjanji setia) dengan engkau akan ikut hijrah dan jihad, karena kau ingin memperoleh pahala dari Allah swt.”
“Apakah orang tuamu masih hidup” Tanya nabi.
“Bahkan keduanya masih hidup”jawab lelaki tersebut.
“Apakah kamu mengharapkan pahala dari Allah?”
“Benar, ya rasullah”
“Pulanglah kamu kepada kedua orang tuamu, lalu berbaktilah kepada keduanya sebaik-baiknya,” perintah rasulullah saw. (HR. Muslim).
ada banyak cara untuk menunjukkan bukti kecintaan dan kebaktian kita kepada ibu dan ayah. di antaranya:
o  berbicara dengan bahasa yang sopan santun kepada keduanya
o  berbuat baik kepada ibu dan ayah
o  menyenangkan hati ibu dan ayah
o  bersedekah untuk ibu dan ayah
o  berhaji untuk ibu dan ayah
o  meminta maaf kepada ibu dan ayah

walaupun hari ini bukan hari ibu
tetap ku katakana I love mom
sebenarnya aku tidak tahu harus melukis bagian
mana dari wajahmu
karna wajahmu terlalu banyak cahaya ketegaran
sehingga aku tidak dapat melukis garis-garis wajahmu

ingin ku berlari jauh, jauh di ujung sana
dan berteriak serak, terjatuh
namun ku membisu dan mematung
ingin ku melompat dari gedung tinggi itu
namun aku takut, ada yang menampung ku
dari dasar tanah

kau itu malaikat tampa sayap
mungkin, sayapmu kau lepas untukku
mungkin, sayapmu kau jual demiku

aku tidak bisa terlalu lama berdiri menungu sepi
sunyi, dan meredahnya hembusan angin
aku ingin mengatakan
kau adalah nafasku
kau adalah urat nadiku
aku sayang kamu ma!

CIIMUMUTZ.BLOGSPOT.COM


Tidak ada komentar:

Posting Komentar