JANGAN ABAIKAN INI!! !
“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat
baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan
lemah yang bertambah-tambah, menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah
kepada-ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu. hanya kepada-ku-lah kembalimu.”
(QS.Luqman: 14)
Selama masa Sembilan bulan, itu bukanlah
saat-saat yang mudah atau ringan, ada banyak keluhan yang aku harus hadapi dan
aku tanggung dengan penuh kesabaran. itulah yang harus di tanggung seorang
perempuan yang kelak disebut dengan panggilan ibu, bunda, ummi, mamak, atau mom
dan sebagainya. aku terus menyimpan bayangan yang serba indah tentang buah hati
yang akan segera lahir kedunia. betapa indahnya ketika si kecil terlahir dengan
bentuk yang utuh, lucu dan menggemaskan. betapa bahagianya ketika aku menyusui
si kecil, memeluknya dalam dekapan kehangatan, dan menggendongnya hingga ia
terlelap dalam tidur. betapa berharganya seorang anak yang akan merawat dan
menyayangi aku ketika aku sudah lanjut usia, ketika aku tidak lagi bisa
berjalan, dan ketika aku tidak bisa mengenali siapapun.
Kehidupanku terasa sangat sempurna, ketika anak
pertama yang aku tunggu-tunggu terlahir kedunia dalam keadaan sehat. wajah yang
lucu, kulit yang masih merah, bibir yang masih tipis menagis dipelukanku. aku tak
bisa membendung air mata yang keluar karena ia terlahir dengan normal dan begitu
sempurna di mataku. detik-detik melahirkan, aku menangis, meraung, menjerit,
hingga hilang perih dan sepi. tetapi semua yang aku rasakan hanya ada satu,
anak ku bisa selamat. hanya itu kata yang ingin ku ucapkan kepada semua orang
yang ada dirumah sakit, tapi aku tidak bisa berbicara karna rasa sakit. karna
rasa sakit itu, sudah menghantui ku sejak berjam-jam yang lalu. sejak malam mulai dingin, sejak jalan mulai
senyap. disitu aku merasakan sakit yang bertambah-tambah, sakit yang
menyusuk-nyusuk ubun-ubunku. aku pendarahan hebat saat itu, sampai-sampai semua
orang merasa cemas dan pucat di ruang tunggu.
“Selamat buk, anak ibu laki-laki yang sehat”
kalimat ini yang ingin selalu aku dengar dan kurekam dalam memori otak, karna
aku tidak ingin menghapusnya apalagi melupakannya. semua rasa sakit yang
kurasakan berjam-jam yang lalu, semuanya telah sirna. tangisan bayi yang lucu
dan mungil, membuat rasa sakit ini terobati.
SAKIT
Rasa sayang ini takan pernah hilang ataupun
bisa tergantikan dengan yang lain. ketika si kecil menagis di sepertiga malam, aku kuatir dan
merasa takut dengan anak ku. sampai-sampai aku tidak bisa tidur hingga petang
merambat keluar jendela. ku ambil obat dan ku kompres badanya yang hangat.
sedikitpun rasa kesal dan benci tidak pernah terlintas dalam pikiran, yang ada
hanya rasa sayang dan sayang yang terlalu besar. aku tau, badan ku juga tidak
sehat. setiap malam aku harus bergadang demi si kecil, setiap malam aku
bernyayi demi mereda tangisan-nya.
Malam terasa siang ku rasakan. ku merawat
dengan penuh amanah sang pencipta, membelai dengan kasih sayang dan
pengorbanan. tak ku hiraukan arah angin yang kadang-kadang berubah-ubah.
BERANJAK BESAR
Ketika pagi datang, aku dengan sigap membuka
mata secepat kilat. aku tidak mau sedetikpun terlambat bangun dan membuat
serapan untuk anakku. si kecil, bukanlah si kecil lagi. ia sekarang sudah tumbuh
dewasa. ketika beranjak lima tahun, aku daftarkan ia di sekolah playgroup. aku
berharap ia lebih pintar dan lebih tinggi derajatnya dari aku saat ini. ketika
hari pertama masuk sekolah, aku harus menunggui dari mulai hingga selesai
kelas, karena tidak semua anak yang mau di tinggal begitu saja di sekolah
ketika hari pertama sekolah. belum lagi ketika ia rewel, ngambek, dan nangis
ingin pulang saja, atau tidak mau sekolah. dengan kesabaran aku terus
membujuknya supaya ia mau masuk sekolah. padahal, itu semata-mata untuk masa
depanya, bukan untuk aku.
Ketika aku berjalan-jalan di taman, ia selalu
mengulang-ulangi permintaan-nya, yaitu meminta balon. ia mengulangi permintaan
itu sampai aku harus membelikan-nya.
ketika ia bertanya tentang sesuatu yang tidak ia tau, ia akan bertanya pada ku
berulang-ulang kali. pernah terlintas rasa kesal, akibat selalu mengulang-ulang
jawaban yang itu-itu saja. tapi rasa itu aku buang jauh-jauh kedasar jurang
lalu aku pendam. ketika ia beranjak dewasa, aku selalu menanamkan budi pekerti,
cara bergaul yang baik dengan temanya, guru, dan orang lebih tua darinya. itu
semata-mata agar ia memjadi anak yang baik.
RENUNGAN
“kalian semua adalah pemimpin (penggembala)
dan akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya atas pimpinannya.
seorang lelaki adalah pemimpin bagi istrinya, kelak akan diminta pertanggung jawaban
atas kepemimpinannya, seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, kelak
akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari-Muslim).
dari hadist di atas, terpancar jelas bahwa seorang ibu tidak hanya mengemban
tugas mengandung, melahirkan, dan menyusui selama dua tahun. tetapi lebih
lengkap, yakni merawat, menjaga, sekaligus mendidiknya. tanggung jawab itu
mungkin terasa berat, tetapi itulah keistimewaan yang dikaruniakan Allah
kepadanya, dibanding dengan makhluk-makhluk yang lain. Allah juga memberi
kelebihan berupa surga di telapak kakinya, yakni bagi anak-anaknya. ibu
melakukannya dengan ikhlas tampa terpaksa
sampai saat ini, sudahkah kita membalas
budinya?
sudahkah kita membahagiakannya?
betapa tidak baiknya, jika kita kadang marah
kepadanya, atau membantah perintahnya. betapa durhakanya jika kita menyakitinya
atau membuatnya menitikkan airmata karena ulah kita. “barangsiapa yang
merelakan diri terhadap kedua orang tuanya berarti ia rela (senang) terhadap
Allah, dan barangsiapa yang memarahi kedua orang tuanya maka ia seperti
memarahi Allah.”(HR. Bukhari).
MENIKAH
Ketika kamu menikah, aku merasa kesepian
disini. berteman dengan sepi dan dingin. kemanahkah kamu sekarang, aku disini
merindukanmu, merindukan tangisan mu, tertawaanmu, dan sifat ngambekmu. apa
kamu lupa dengan aku, tapi mana mungkin kamu bisa lupa dengan aku. pasti kamu
sibuk atau sedang ada kerjaan disana. aku hanya berharap, jangan lupa pulang
kerumah.
Dan ketika aku berjumpa dengan mu, dan tinggal
bersamamu. aku merasa sangat senang, sekarang kamu sudah sukses dan mempunyai
seorang anak yang sekaligus menjadi cucuku. tapi kenapa kamu sedikit berubah
padaku. sekarang kau terlihat lebih kasar, kalau sedang pulang kerja. mungkin
kamu kecapean atau sedang ada masalah di kantor.
Maafkan aku yang selalu memecahkan piring saat
aku sedang makan, karna tanggan ku tidak lagi kuat memegang piring yang terlalu
berat. dan maafkan aku yang selalu menggulang-ngulangi pertanyaan yang itu-itu
saja, karna aku sudah banyak yang lupa. aku senang bisa bermain dengan
cucu-cucuku, walau menantuku selalu melarangku untuk dekat dengan anaknya,
karna aku bau. aku bau bukan aku kotor, aku bau karna aku tidak tahan saat
mandi, karna airnya terlalu dingin yang menyusuk-nyusuk kulitku.
Kamu masih ingat gk, saat itu kamu meminta
balon di taman. kamu selalu menari-narik celanaku, sambil meminta berulang-ulang,
sampai aku membelikanya, baru kamu diam. dan kamu masih ingat gk, ketika kamu
tidak mau makan dan kamu berlari-lari. aku berusaha mengejar kamu, hanya untuk
sesendok nasi yang masuk kemulutmu. sekarang kamu sudah besar dan memiliki
seorang anak, aku hanya berharap didiklah anak mu dengan kasih sayang,
sebagaimana aku menyayangimu sewaktu kamu masih kecil.
RENUNGAN II
dari abu hurairah ra. ia berkata: seorang
laki-laki bertanya kepada rasulullah saw., “ya rasulullah! siapa dari
keluargaku yang berhak atas kebaktianku yang terbaik?” beliau menjawab, “ibumu,
kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian baru bapakmu, kemudian yang terdekat
denganmu, yang terdekat!” (HR. Muslim).
Dari hadist diatas menjelaskan, bahwa kebaktian
kita semasa hidup kita tujukan terutama kepada ibu kita lalu ayah kita,
kemudian yang terdekat dengan kita. subhanallah, betapa mulianya ibu dan
ayah. kita wajib berbakti kepada sosok mulia yang tampa perantaranya kita tak
akan terlahir di dunia ini. sampai-sampai berbakti kepada ibu dan ayah hukumnya
wajib. sebanding dengan kewajiban shalat, zakat, dan puasa. bahkan sebagian
ulama berpendapat bahwa berbakti kepada ibu dan ayah sebanding dengan menyembah
Allah swt. “Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah
selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu-bapak dengan
sebaik-baiknya.”(QS. al-Isra’:23). Abdullah bin amru bin ash ra.
menceritakan, bahwa seorang lelaki datang menghadap Muhammad rasulullah saw.
lalu lelaki itu berkata, “aku bai’at (berjanji setia) dengan engkau akan ikut
hijrah dan jihad, karena kau ingin memperoleh pahala dari Allah swt.”
“Apakah orang tuamu masih hidup” Tanya nabi.
“Bahkan keduanya masih hidup”jawab lelaki
tersebut.
“Apakah kamu mengharapkan pahala dari Allah?”
“Benar, ya rasullah”
“Pulanglah kamu kepada kedua orang tuamu, lalu
berbaktilah kepada keduanya sebaik-baiknya,” perintah rasulullah saw. (HR.
Muslim).
ada banyak cara untuk menunjukkan bukti
kecintaan dan kebaktian kita kepada ibu dan ayah. di antaranya:
o berbicara dengan bahasa yang sopan santun
kepada keduanya
o berbuat baik kepada ibu dan ayah
o menyenangkan hati ibu dan ayah
o bersedekah untuk ibu dan ayah
o berhaji untuk ibu dan ayah
o meminta maaf kepada ibu dan ayah
walaupun hari ini bukan hari ibu
tetap ku katakana I love mom
sebenarnya aku tidak tahu harus melukis bagian
mana dari wajahmu
karna wajahmu terlalu banyak cahaya ketegaran
sehingga aku tidak dapat melukis garis-garis
wajahmu
ingin ku
berlari jauh, jauh di ujung sana
dan
berteriak serak, terjatuh
namun ku
membisu dan mematung
ingin ku
melompat dari gedung tinggi itu
namun
aku takut, ada yang menampung ku
dari
dasar tanah
kau itu
malaikat tampa sayap
mungkin,
sayapmu kau lepas untukku
mungkin,
sayapmu kau jual demiku
aku
tidak bisa terlalu lama berdiri menungu sepi
sunyi,
dan meredahnya hembusan angin
aku
ingin mengatakan
kau
adalah nafasku
kau
adalah urat nadiku
aku sayang kamu ma!
CIIMUMUTZ.BLOGSPOT.COM