C!nt4 Bed4
(ISdaKRI)
Nursalim
“Sebenarnya
hati kecil inilah yang memaksa ku untuk menulis kisah ini. Kisah antara aku dan
dia, yang sudah cukup asin memakan garam lautan percintaan.”
Cahaya yang redup mulai membesar seiring kokokan ayam di tepi jalan. Sepi, sunyi, dan kegaduhan mulai mencair dengan dimatikannya lentera-lentera penerangan. Terlihat disebelah ufuk timur sana, monster besar sedang marah dengan mengeluarkan cahaya kekemerahan pekat. Kicauan burung perlahan-lahan membangunkan tidur singkat ku. Tapi nyanyian lembut ini mulai meneggelamkan pikiranku sejauh sungai itu. Embun pagi sudah tergantikan oleh rintikan-rintikan abu jalanan metropolitan. Sedangkan aku, aku disini ingin berlari, berlari sejauh mungkin untuk meninggalkan hasratku untuk hidup. Hidup yang sudah melupakanku, bagai mana cara mempunyai cita-cita dan harapan. Tetapi, sang mentarilah yang mengajarkanku untuk kembali lagi berdiri dan berteriak ‘aku ingin mempunyai cita-cita dan harapan untuk masa depan ini’. Seperti halnya namaku yang diberi Mama, Ikal. Katanya, gambaran dari hidup mama yang penuh gelombang dan sesaknya batin. Bertahun-tahun membesarkan ketiga anaknya seorang diri. Menjadikan mama seorang yang tegar tampa menggenal lelah.
Kisah
ini di mulai saat aku baru melihat dunia baru. Ya, dunia dimana aku berdiri di
satu tembok yang memisahkan dua dunia. Dua dunia antara aku dan dia. Rasanya
aku ingin memanjat, dan melihat apa yang ada di balik tembok tersebut. Tapi
sayangnya tembok tersebut diselimuti kawat berduri luka. Yang mampu
mengoyak-ngoyak batin, bagi siapa saja yang berani memanjatnya. Ini sunguh
gila, kenapa aku tidak bisa memanjatnya. Kata orang, tembok tersebut dihiyasin
oleh rintihan-rintihan tangisan, tertawaan, dan duka lara.
Tiga
jam aku berdiri di sini. Berdiri menunggu suatu keajaiban yang turun dengan
sayapnya yang penuh dengan cahaya kesilauan. Termenung menatap sepi, sunyi, dan
caci maki. Hidup ini tidak adil untukku. Bertahun-tahun aku menunggu kepastian
ini, menunggu senyuman ini, menunggu dan menunggu yang penuh amarah dan emosi.
kisah
ini berawal, ketika aku mencari jati diriku yang sudah lama menghilang.
Menghilang akibat terjangan ombak samudra. Hampir saja aku tidak sadarkan diri
saat itu. Saat itu bel sekolah berdering dengan sangat kuat, bertanda pulang
sekolah sudah tiba. Dengan kuda-kuda yang kuat aku mulai berlari, berlari karna
aku bebas, bebas dari penjara pikiran ini. ‘Bruakkk’ hantaman
keras yang menghentikan langkahku. Sepertinya aku bermimpi, tiba-tiba mataku terpokus pada satu titik,
titik dimana sesosok wanita dengan pakaian putih biru dan dibuat serasi serba dengan
warna tersebut. Matanya yang sayu, bibirnya merah delima, alis tebal dan senyumnya yang
menawan bak primadona di siang itu. Sepertinya
aku berhalusinasi, apa yang barusan aku tabrak adalah sesosok bidadari yang
datang dari kilauan cahaya surga.
“Oh, maaf ya!. Aku tidak sengaja” ucapku untuk sosok bidadari
tersebut. “Gk papa. Santai aja kali” jawab bidadari tersebut
dengan senyuman yang lebar. “Nama
kamu siapa? Aku kok baru lihat kamu disini” tanyaku mendatar. “Namaku
cinta, aku anak baru di sekolah ini” jawabnya dengan sedikit malu-malu. “Oh,
nama kamu cinta, aku pikir tadi nama kamu bidadari”. gombalku dengan sedikit cool.
Dari
kejadian tadi siang, membuat pikiranku terus menerus berputar-putar. Berputar-putar
mencari kejelasan apa yang barusan aku alami ini. Mungkin inilah yang kata
orang, pandangan pertama. Rasanya hati, pikiran, dan tubuh ini tidak bisa
berkata-kata. Sepertinya perasaan ini terpaku pada sosok bidadari tersebut.
Entah
apa yang merasuki pikiranku saat ini. Sudah dua hari ini aku termenung sambil
senyum-senyum sendiri karna memikirkan hal yang itu-itu saja. membuat aku
tambah gila, gila akan kehausan sesuatu. Pikiranku ini ibarat sebuah roda yang
terus-menerus berputar, berhenti di suatu titik yang menunjukan suatu
pertanyaan yang besar. Pertanyaan yang akan terpecahkan oleh ruang dan waktu.
Hari-hariku
penuh canda dan tawa, penuh suka dan dukanya sekolah, yang membuat aku menjadi
bosan. Yang setiap harinya hanya belajar, menulis, duduk, dan bengong. Tapi
karna sesosok bidadari tersebut, yang menjadikan aku lebih bersemangat untuk
belajar dan datang kesekolah setiap harinya.
“Hy, kamu cinta ya, yang semalam di gerbang sekolah kita tabrakan.
Masi ingat kan?” sapaku di kantin sekolah. “Iya. tapi maaf ya, aku harus
buru-buru masuk ni!” jawabnya dengan nada sedikit cuek. Walaupun
dia sedikit cuek, tetap saja rasanya aku ingin melompat-lompat dari ketinggian
dan berteriak. ‘Oh..indahnya ini, bisa ketemu dia lagi’.
Akhir-akhir ini, aku sedikit berubah. ‘kata aris’. Berubah karna sering melamun, bertingkah laku yang tidak wajar, dan berubah dalam datang kesekolah yang dulu hampir telat setiap harinya. Perubahanku ini hampir mendekati angka 360 drajat, kata kedua sahabatku. Tetapi aku menyadari, tidak ada perubahan dalam hidup ku ini. Paling yang berubah hanya uang jajanku sekolah yang dipotong setengah dari biasanya, akibat keadaan ekonomi mama yang semakin mulai melemah.
Sejak
pertemuan saat itu, sudah tiga hari ini aku selalu mencari tau tentang cinta.
yah… Lebih tepatnya seperti mata-mata gitu. Rupanya aku mendapatkan informasi,
bahwa cinta itu anak Sembilan dua. Ya, kelas Sembilan dua, tepat di ujung kamar
mandi sekolah. Dan setelah kuwawancarai beberapa anak Sembilan dua, ternyata
nama asli cinta adalah ledy kristiani zega. Nama yang indah dan sekaligus nama
yang asing ditelingaku. Dan begitu kagetnya aku ketika mendengar dari fandy,
kalau cinta itu beragama kriten protestas. Rasanya harapan dan impian ku
bersama cinta ambles di tengah jembatan lapuk. Sehingga aku terjebur dan
menyadari ini semua hanya angan-angan kosong. Tetapi aku tidak putus asa begitu
saja, aku ingin membuat perbedaan ini menjadi indah pada waktunya.
Tepat
pada hari itu tiba-tiba kaki ini berhenti melangkah, mata ini tertuju pada sosok
yang berada di sana. Mata yang jernih dan indah, mata yang mungkin aku kenal.
Yah… Gadis itu ternyata cinta. Aku mendekatinya dan duduk di depannya. Ia
meletakkan kepalanya di atas meja, pandangannya kosong. “Apa yang sedang ia
pikirkan?” tanyaku pada diriku sendiri.
“Cinta…”
sapaku terdengar canggung.
“Astaga… siapa kamu? bikin kaget aja.” Ucapnya yang terlihat kaget.
“Gak inget aku?” ucapku balik tanya.
“Emmm…” gumamnya ngengerutkan kening sambil berfikir.
“Oh… Cowok yang nabrak ku kemarin siang, yang gerbang sekolah?” ucapnya lagi terlihat lega, seperti menemukan ingatan yang telah ia lupakan. “Aku ikal.” ucapku mengulurkan tangan.
“Bodo’. aku gak mau kenalan ama orang kaya lo.” Ucapnya yang sangat-sangat cuek. Ia langsung pergi dan meninggalkan ku. Inilah cinta, orang yang baru aku kenal. cuek tapi lebih berkesan manis.
“Astaga… siapa kamu? bikin kaget aja.” Ucapnya yang terlihat kaget.
“Gak inget aku?” ucapku balik tanya.
“Emmm…” gumamnya ngengerutkan kening sambil berfikir.
“Oh… Cowok yang nabrak ku kemarin siang, yang gerbang sekolah?” ucapnya lagi terlihat lega, seperti menemukan ingatan yang telah ia lupakan. “Aku ikal.” ucapku mengulurkan tangan.
“Bodo’. aku gak mau kenalan ama orang kaya lo.” Ucapnya yang sangat-sangat cuek. Ia langsung pergi dan meninggalkan ku. Inilah cinta, orang yang baru aku kenal. cuek tapi lebih berkesan manis.
Menit
demi menit, aku terus mencoba mendekati cinta. Mengajaknya sekedar mengobrol,
duduk santai, atau pulang bersama. Entah kenapa cinta selalu menolak ajakanku
ini. Tetapi aku terus berusaha untuk selalu mengajak dan mendekatinya. Dan
dengan kegigihanku, akhirnya cinta mau menerima ajakanku ini. Rasanya aku
sangat senang dan bahagia, bisa bersama-sama cinta. Hari demi hari aku jalanin
kesenangan dan kebahagian ini bersama cinta. Entah kenapa tiba-tiba cinta pada
saat itu bertanya padaku, dengan nada yang sedikit serius, “Kita ini baru
kenal, tapi kenapa kamu anggap aku seperti orang yang sudah lama kamu kenal?”. Aku
tampa ragu berkata “karna kamu itu beda cin. Ibarat sebuah bulan yang datang
dengan tiba-tiba, lalu mengeluari cahaya nya yang sangat aku perlukan pada saat
itu. Itulah kamu cin.”. “ gaya lu, kayak orang puitis aja”. Hahaa… kami berdua
pun tertawa bahagia.
Hari berganti dengan begitu cepat. Entah kenapa sepertinya dalam hati kecilku ini mulai tumbuh biji-biji bunga yang akaranya bulai menancap di jantung ini. Bunga dan daun nya yang setiap hari mulai memekar dan membesar, akibat rasa-rasa yang memupuk subur akar kebahagian, kecerian dan semangat datang kesekolah
Hari-hariku
semakin nampak begitu dekat dengan cinta, ibarat kakak dan adik. Memang, aku
menyadari kedekatan ku ini seperti kakak dan adik, dan aku berharap lebih dari
itu semua. Pernah suatu ketika cinta curhat pada ku. “ aku sangat penget banget
dihari ulang tahunku nanti, aku diberi hadiah boneka teddy. Tapi sayangnya ibu
gk pernah ingat hari ulang tahunku”. Aku hanya diam dan termenung “ suatu saat
nanti, aku janji akan memberimu hadiah boneka teddy.”
1
juni 2004, aku lulus dengan predikat yang cukup memuaskan. Tapi, kelulusan ini membuat
aku tidak cukup bahagia. Bagaimana mungkin aku bisa bahagia, orang yang membuat
aku nyaman, orang yang membuat aku tersenyum lebar, orang yang membuat aku
tertawa bebas. Bersamaan dengan surat lulus ini, aku dan cinta pun berpisah.
Rasanya aku gk mau berpisah dengan cinta, tetapi ini semua sudah terjadi.
Memang rumahku dengan rumah cinta tidak terlalu jauh, tetapi dengan kelulusan
ini aku tidak bisa lagi berjumpa dengan cinta. Tepat tanggal 2 juni 2004 aku
menulis surat untuk cinta.

Dear,Cinta.
Waktu tidak
terasa yah…begitu cepat memisahkan kita. Aku merasa baru kenal kamu itu sejam
yang lalu, ya sejam yang lalu. Tetapi aku salah. Hatiku inilah yang mengatakan
aku baru kenal kamu sejam yang lalu. Aku sangat bahagia bisa kenal kamu, bisa pulang
barang kamu, bisa tertawa dengan kamu. Tapi sekarang kita tidak bisa seperti
dulu lagi. Mamaku mempunyai rencana yang enggak aku suka sama sekali, yaitu
mengirim aku ke tempat nenek untuk sekolah
di Jakarta. Aku udah beberapa kali memerotes rencana mama ini, tetapi
aku tidak bisa berbuat banyak. Besok pagi tepat jam delapan, aku harus pergi. Aku berharap kamu datang dan menemuin aku
untuk terakhir kalinya, itupun kalau kamu mau. Dan kalau kamu masih menganggap
aku sebagai teman kamu. Ikal, jam delapan di kualanamu, Medan.
Jarum
jam sudah menunjukan 07.40 menit. tetapi belum ada tanda-tanda cinta datang.
Aku sangat gelisah, sampai-sampai aku tidak mau meninggalkan kota ini. Ku lihat
kearah jalan, berharap cinta berlari menemuiku saat ini juga. Mungkin cinta
tidak akan datang, dan mungkin pula cinta tidak memiliki rasa yang sama dengan
ku. Yasudah lah… aku tidak akan berharap terlalu besar akan kehadiran cinta
disini. Dan selamat tinggal kenangan, selamat tinggal senyuman, dan selamat
tinggal semua yang aku dapat di kota
ini. Mungkin aku tidak akan mendapatkannya di kota manapun. Kaki ku mulai
melangkah, harapan ku pun sudah sirna. Tiba-tiba ada sesosok malaikat yang
memanggil ku dari kejauhan.
“Ikal… tunggu.” rupanya suara cinta yang sedang berlari kearahku,
dan memelukku dengan erat. “Aku
nggak mau kehilangan kamu kal, karna aku sayang kamu.” Cinta kembali lagi
memelukku untuk kedua kalinya. Aku hanya bisa tersenyum dan terharu mendengar
kata-kata yang keluar dari mulut cinta. “Aku
tidak ada banyak waktu untuk ini cin” lalu aku mengambil buku diary ku di dalam tas.
“Setelah kepergiyanku ini, kamu baca diary ini di lembar terakhir.” “Ikal, pesawatnya sudah mau berangkat ni”, panggil mama dari kejauhan. Aku langsung pergi dan melepaskan pelukan cinta saat itu juga.
“Setelah kepergiyanku ini, kamu baca diary ini di lembar terakhir.” “Ikal, pesawatnya sudah mau berangkat ni”, panggil mama dari kejauhan. Aku langsung pergi dan melepaskan pelukan cinta saat itu juga.
“Kau
adalah mentari yang datang dalam gelapnya sunyi. Cahayamu mampu menerangi
setiap langkah kaki ini. Langkah kaki yang kadang ingin berlari, berlari untuk
bebas. Kau itu sebenarnya siapa sih..? mampu membuat aku membisu selama ini. Mampu
membuat aku gila sampai detik ini. Aku memang tidak mengenal kamu begitu detil.
Tapi aku yakin dan percaya bahwa kamu itu bidadari yang dikirim khusus buat
aku. Bidadari yang menemani mimpiku, bidadari yang menemani kebahagianku. Satu
hal yang aku inginkan dari kamu, jangan pernah lupakan aku. Karna aku sayang
kamu, cinta”. kalimat yang aku tulis di lembar terakhir, diary tersebut.
Air mata ini tak mampu lagi ku bendung. Sesaknya batin ini seketika melihat cinta menangis melepaskan kepergianku. Tetapi aku tidak bisa berbuat banyak, aku hanya bisa mengucapkan selamat tinggal untuk cinta. Dan yang terucap dari bibirku hanya kata, tunggu aku disini, sampai aku kembali. Aku pasti tidak akan lama-lama tampa kamu di sisi ini.
8
tahun berlalu begitu cepat.
Aku
sangat kangen sama keluarga ku, terutama sama mama. Dan aku sangat kangen juga
dengan kedua sahabatku. Aku langsung bergegas mengemas barang-barang bawaan.
Aku tidak sabar untuk melihat kota kelahiran ku, kota dimana aku bisa berteriak
dengan bebas. Emm… wajar, 8 tahun di Jakarta rasanya membosankan. Macet, macet
dan macet itulah kota jakarta.
3 jam
perjalanan ku tidak terasa. Sesampainya aku di bandara kualanamu, aku teringat akan sesosok wanita. Dimana sesosok wanita dengan pakaian putih
biru dan dibuat serasi serba dengan warna tersebut. Matanya yang sayu, bibirnya merah delima,
alis tebal dan senyumnya yang menawan bak primadona di siang itu. Rupanya sosok
itu adalah cinta. Tidak mungkin aku bisa melupakan cinta begitu saja.
Sesampainya aku di rumah, besoknya aku langsung datang menemuin rumah cinta di
daerah rahayu.
”Selamat pagi,
permisi” sapaku memanggil penghuni rumah. ”Ya,
ada apa dek” saut penghuni rumah yang terlihat sudah tua. ”Maaf nek, apa benar ini rumah cinta” tanyaku
kepada nenek tersebut. ”Oh...keluarga
cinta sudah pindah dari rumah ini satu bulan yang lalu” ucapan nenek yang
memperjelas.
”Apa nenek mengetahui, kemana keluarga cinta pergi”. Tanyaku lagi.
”Setau nenek, dia bilang mau pindah ke daerah siantar. Tapi keluarga tersebut tidak memberitahu alamatnya dimana” jawab nenek tersebut yang sepertinya tidak mengetahuin kemana cinta pergi. ”Oh,"terimakasi ya nek.”
”Apa nenek mengetahui, kemana keluarga cinta pergi”. Tanyaku lagi.
”Setau nenek, dia bilang mau pindah ke daerah siantar. Tapi keluarga tersebut tidak memberitahu alamatnya dimana” jawab nenek tersebut yang sepertinya tidak mengetahuin kemana cinta pergi. ”Oh,"terimakasi ya nek.”
Aku cukup kecewa dengan kepergian cinta ini. Bertahun-tahun aku menungu
hari ini, hari dimana aku bisa berjumpa dengannya, hari dimana aku bisa melepas
rindu dengannya. Tetapi semua ini hilang begitu saja. tapi aku tetap akan terus
berusaha untuk selalu mencari tau tentang keberadaan cinta saat ini. Semua
teman-teman cinta aku temuin untuk menanyai kemana cinta pergi. Tetapi semua
teman-teman cinta tidak mengetahui kemana cinta pergi. Dan Alhamdulillah...
hanya ada satu teman cinta bernama ulfa, yang mengetahui alamat cinta sekarang
ini. Ulfa memberiku alamat Jl. Simanuk-manuk Gg. Tentara no. 23, Siantar. Aku
tidak sabar lagi menunggu waktu yang lama, aku langsung bergegas pergi
kesiantar. 3 jam pejalananku menggunakan sepeda motor kesiantar, memang cukup
melelahkan. Tapi semua itu hilang seiring senyuman cinta yang selalu
terbayang-bayang dalam pikiranku ini.
”Selamat sore”
sambilku mengetuk-getuk pintu rumah, yang alamatnya diberi ulfa. ”Iya selamat sore,
mau mencari siapa ya?” tanya seorang ibu-ibu, yang sepertinya mama nya
cinta. ”Apa benar ni buk rumahnya cinta”
”Benar,
kamu ni siapa?” tanya lagi ibu-ibu tersebut. ”Saya ini temanya cinta dari medan, Cintanya ada buk”. ”Aduh... cintanya tidak ada di sini. Cintanya ngekos di medan”. Ucapan
yang menghancurkan hidupku untuk kedua kalinya.
”Oh ya buk, terima kasih. Saya pulang
dulunya buk.” akhirnya aku pulang dengan tangan hampa, tampa
membawa cinta
disisi ini. Rasa kecewa sudah tentu, tidak dipungkiri lagi. ’Aku bosan, dan aku
muak dengan semua ini’ gumamku dalam hati. Mungkin aku bukan jodoh dengannya.
Keesokan harinya
aku ingin melupakan semua hal yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku berusaha
melupaka ingatanku tentang cinta, dengan cara aku joging dengan beberapa
teman masa kecilku dulu. Tepat di lapangan unimet ini, aku melepas rindu dengan
kedua sahabatku, aris dan fandy. 20 menit aku berhasil berlari mengelilingin
lapangan sepak bola yang cukup luas ini. Aku langsung lesu, sampai-sampai
kakiku naik betis akibat lari yang terlampau semangat. Tetapi ini semua tidak
bisa juga mengobati ingatan ku tentang cinta. Ya tuhan... apakah ini semua.
Selang beberapa menit aku duduk di bawah pohon mangga, ada seseorang yang
tiba-tiba menyapaku dari arah belakang. ”hy kamu ikal kan”. aku hanya
terbengong dan mati kata. ’siapa dia, dan kenapa dia tau namaku’ tanyaku dalam
pikiran. Setelah aku lihat mata jernih tersebut, ternyata orang yang menyapa ku
ini adalah cinta. ’Memang jodoh ini tidak pergi jauh-jauh’ gumamku dalam hati
kecil.
Tetapi entah kenapa cinta tiba-tiba lari dari hadapanku. Sepertinya ia sudah membenciku dan tidak mau lagi dekat denganku. Aku berusaha lari untuk meraih tangannya. ”Kenapa kamu lari dari aku cin, seminggu ini setelah kepulanganku dari Jakarta, aku langsung berusaha mencari tentang keberadaan kamu. Dan setelah aku berjumpa dengan kamu, kamu malah lari dari hadapanku. Aku sayang kamu cin”. ”Aku capek dengan kamu kal. Katanya kamu berjanji akan datang dan kembali lagi dalam pelukanku. Tapi kenapa, tapi kenapa kamu menghilang begitu aja. Dan disaat aku mulai melupakan mu, kau malah datang tampa salah. 8 tahun ini aku berusaha melupakanmu, tapi aku tidak bisa. Sampai-sampai aku berniat mengakhiri hidupku ini. Mungkin aku tidaklah berguna dan tidaklah pantas untukmu. Sudah selama ini aku terus menunggu dan menunggumu. Tetapi kamu tidak pernah menulis surat dan memberi tau tentang kabarmu”. Terlihat genangan air mata yang terus mengalir dari pipi cinta. Ya tuhan...aku sangat bersalah pada diri cinta. Langsung ku peluk erat badan cinta sambil kubisikan di telingga kirinya ” aku berjanji, aku tidak akan meninggalkan kamu lagi. Untuk detik ini, dan untuk selama-lamanya.”
Cinta sepertinya sudah bisa tenang dan sudah
menggetahui alasan ku untuk selama ini meninggalkannya.
Rasanya hati ini sangat senang bisa kembali berdua lagi dengan cinta. Setelah 8 tahun berpisah dengannya, membuat hati ini tidak mau berpisah lagi denganya. Tetapi setelah masalah ku dengan cinta selesai, malah timbul masalah yang baru. Yaitu masalah yang keluar dari kedua orang tua kami. Mama ku tidak merestuin hubunganku dengan cinta, begitu juga sebaliknya kedua orang tua cinta.
”Bagaimana mama
bisa merestuin hubungan kamu dengan cinta, sedangkan keluarga kita dengan
keluarga cinta itu berbeda agama. Bagaimana jadinya nantik, kalau kalian ini
menikah ”. Bentak mama yang sepertinya sangat marah. Aku hanya bisa terdiam dan
merasakan sakitnya batin ini. ”kalau kamu mau menganggap mama sebagai mama lagi,
sebaiknya kamu putusin cinta saat ini juga”. Ucapan mama yang mengancam hubungan kami berdua.
”Sebetulnya mama gk mau bercerita tentang masalalu mama, tapi kamu yang memaksa mama untuk bercerita. Kamu tau gk kal, kenapa mama bisa cerai dengan bapak kamu. Karna mama dengan bapak kamu itu berbeda. Orang tua mama dan orang tua bapak kamu itu melarang keras hubungan kami. tapi mama nekat kal, mama nekat untuk kawin lari menghindari itu semua. Tetapi mama baru merasakan kalau beda itu tidak mungkin bisa bersatu. setelah mama mempunyai anak satu yaitu abang kamu, dari situ mulai terjadinya perperangan antara mama dan bapak kamu. sehingga mama gk bisa bersatu lagi dengan bapak kamu, akhirnya tahun 1997 mama menggugat cerai bapak kamu di pengadilan. memang sakit kal, tapi ini semua untuk kebaikan anak-anak mama”. aku menangis, karna ku tak tega mendengar semua cerita yang mama lontarkan padaku. Kupeluk erat mama, karna aku gk mau berpisah dengan mama. ”maka dari itu mama gk mau apa yang pernah terjadi pada diri mama itu terjadi pada kamu ikal. Karna mama itu sayang kamu kal, mama takut kehilanggan kamu. tetapi kamu tidak pernah menyadari, kalau mama sayang kamu”.
Rasanya batin
ini seperti diiris-iris lalu diberi cuka, dan lengkaplah sudah penderitaan ku
ini. ”Aku tidak pernah meminta banyak ya tuhan.., aku hanya meminta cinta itu
ada di hatiku untuk selama-lamanya, itu saja yang aku pinta. Tapi kenapa, tapi
kenapa doaku tak pernah kau jawab sekalipun, apakah aku salah.”
Sudah seminggu ini aku jarang bertemu lagi dengan cinta.
Dan sepertinya cinta sudah menjauhi aku. Aku pernah berkata bahwa
perbedaan ini akan menjadi indah pada waktunya. Tetapi aku salah besar,
perbedaan ini tidak akan pernah menjadi indah untuk selama-lamanya. Mungkin
kenangan ku untuk cinta hanyalah sebuah boneka teddy ini, yang pernah aku
idam-idamkan untuk memberikanya sebagai hadiah ulang tahun cinta.
1 tahun aku berpisah dengan cinta. Canda, tawa, tangis, dan senyuman itu gk akan pernah aku lihat lagi. Karna yang ku tau cinta akan menikah dengan pria mapan pilihan kedua orang tuanya. Sedangkan aku, aku akan balik lagi ke Jakarta, untuk melanjutkan pendidikan ku di UI. Yah… jodoh pasti bertemu.
Kamu tau
gk, kenapa aku bisa sayang kamu segini gilanya. Karna kamu itu beda, beda dari
yang lain. Maka nya aku bisa sayang kamu. Salam kangen untuk Ledy Kristiani
Zega, semoga tuhan memberkatimu.
(Rembulan itu tidak mungkin hilang begitu saja, mungkin ia terselimuti mendung atau pula terselimuti kabut malam. Saat rembulan itu akan menghilang, aku mencoba untuk berteriak pada sang angin, bawalah iya untukku dan untuk selama-lamanya. Tetapi sang angin itu hanya diam dan pergi begitu saja. Aku cukup kecewa saat itu. Tapi aku berusaha untuk tetap tegar, agar aku bisa membawanya kesini, di hati ini. Tetapi rembulan itu benar-benar menghilang entah kemana, mungkin ia bersembunyi dibalik gunung itu atau pula ditelan oleh dalamnya samudra. Dan dengan menghilangnya rembulan itu, akhirnya aku benar-benar berjanji pada diriku sendiri, aku akan menanyai kejelasan rasa ini. Rasa yang membuat aku terikat, rasa yang membuat aku tidak akan betah tampa nya di sisi ini. Karna aku cinta kamu cinta.)
Blog: ciimumutz.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar