Rabu, 18 Februari 2015

Di atas langit

Debu bertebaran, tak kasat mata tetapi dapat dirasakan. Terbang, menyatu bersama angin kering dan pusara siang yang terik. Pohon di sepanjang jalan yang tak terurus tetapi bertahan hidup di tengah kepelikan duniawi. Mengguncang bagai laras pistol yang hendak ditembakkan.
Di ujung bangku taman seseorang duduk. Tak menghiraukan udara yang kotor dan berpolusi diserap oleh paru-parunya dan merusak kesehatan. Di belakangnya, seseorang berdiri mengawasi gerakannya. Sesekali memandang ke jalan, berharap agar tiada yang tahu apa yang mereka lakukan di sana.
“Aku tidak tahan. Katakanlah apa maumu, Anna,” pinta orang yang berdiri. Suaranya serak dan berdesis.
Anna, gadis itu, merenung. Matanya lurus ke arah jalan, masuk lebih jauh menjelajahi apa yang ada di balik gedung-gedung bertingkat dan menembus semuanya; jika memang bisa, dia ingin melakukannya. Tetapi dia hanya manusia biasa, rapuh dan nyata. Kenyataan yang dihadapkan padanya tidak seindah mimpi-mimpi anak kecil yang belum mengenal dunia. Dia, orang yang memahami kehidupannya atas kesalahan yang telah diperbuat.
Tetapi dia menyerah pada takdir, berusaha untuk mengubah nasib, atau mengubah apapun yang bisa diubahnya; dalam hidup ini.
“Kau ingat hari ini, bukan?” suaranya, sebaliknya dengan pria di belakangnya, sangat tenang dan merdu. Mirip kicau indah burung nuri. Karena pria itu tidak menjawab, dia meneruskan, “Dewa angin membawa kebencian keluar dari daerah ini, karena itu hawa yang kau rasakan sangat berat dan keras. Sabarlah, Daniel, sebentar lagi sang dewa akan membersihkan angin di sini.”
“Aku tidak tertarik,” kata Daniel meringis, memutar bola matanya dengan sikap malas. “Dewa ilusimu itu tidak akan membantu di saat tersulit sekalipun. Anna, di mana letak keyakinanmu?”
Gadis itu tidak bergerak. Tubuhnya mendobrak untuk menampar pria itu, tetapi hati nuraninya tetap tak mampu. Sepedas apa pun perkataan Daniel, dia tidak bisa menyakiti pria yang pernah menolongnya dalam keadaan sesulit apapun. Daniel-lah dewanya.
“Keyakinanku terbentuk setiap aku bergerak, bernapas dan berbicara, juga berpikir,” kata Anna singkat. Ia menengadah ke atas, melihat wajah pria yang mengisi hatinya selama bertahun-tahun. Mata mereka beradu. Goresan luka tersirat di antara kedua mata itu, namun tak ada yang berani membuka percakapan.
Angin menderu-deru, semakin kencang dan bengis. Mendukung tragedi yang terjadi pada keduanya.
Daniel menggeleng. “Anna, kita tidak bisa. Kita berbeda, sangat berbeda.”
Anna tak bergerak. Sekuat tenaga menahan air yang hendak keluar dari pelupuk matanya. “Kita memang berbeda, Daniel. Tapi… mungkinkah di atas langit sana, kita akan menjadi insan yang sama dan bisa bersama selamanya?”


blog :ciimumutz.blogspot.com

Selasa, 03 Februari 2015

kabut kebahagian

“Juni… Ini ibu nak.. Ibu rindu ingin bertemu kamu….”
Sayup-sayup, kudengar suara itu. Suara yang acap kali datang merasuki, melebur dan menyesakkan dalam mimpiku. Aku terbangun tiba-tiba dari mimpiku. Aku menggosok mataku yang sepertinya masih melekat. Kupandangi sekelilingku. Masih pagi buta. Udara dingin menembus relung-relung jiwaku. Aku beranjak cepat dari alas tidurku yang terbuat dari kardus tua, ketika air dari atap emperan toko menetes tiba-tiba. Aku segera terkesiap sembari meraih karung berukuran cukup besar, yang telah berisi barang-barang bekas yang kuanggap sebagai penyambung hidupku, setiap hari.
Namaku Juni. Aku adalah seorang pemulung. Hari-hariku ku isi dengan bekerja, bekerja dan bekerja. Sebatang kara hidupku. Tak tahu asal-usulku. Hanyalah Mbok Sarmi yang kupunya sekarang. Profesinya sama sepertiku. Ia menemukanku 8 tahun silam ketika aku masih bayi. Usiaku cukup belia. Tapi aku tidak sekolah, kawan. Aku tidak bisa.
Aku berjalan, menggendong sekarung barang, menelusuri emperan-emperan toko yang masih sepi, dan menjauh dari sana. Jalanan tampak lengang. Hanya kubangan-kubangan air karena hujan tadi malam di bulan November ini. Mencoba membuka satu-persatu tempat sampah. Mencari-cari yang sedang kubutuhkan. Namun sayang, rasanya sampah sudah dibersihkan oleh petugas. Dan aku tidak mendapatkan bagian darinya. Aku tak mendapat apa-apa.
Kuputuskan untuk pergi menuju suatu tempat dan menunggu hari. Aku menyusuri jalanan yang lembek dan licin. Melewati dinginnya air sungai yang terlalu jernih. Tibalah aku di atas bukit nan megah. Aku duduk diam di atas sebuah batu legam yang dingin rasanya jika diduduki. Tepat di sisiku, sebuah phon rindang memancarkan kesejukan. Kuletakkan karungku yang berwarna kelabu, yang sudah kelaparan untuk diisi sesuatu lagi.
Aku menatap langit timur. Matahari nampaknya akan bangun meninggalkan tempat peraduannya dan menyapa tiap insan di dunia. Ku layangkan pandanganku sejauh 1 mil dari tempatku terduduk sekarang. Gedung-gedung bertingkat berdiri megah di sana. Kabut menyelimuti pandanganku. Aku menoleh ke arah tanaman kerdil di depanku. Embun terjatuh dari ujung salah satu daunnya dan menimpa sebuah batu yang telah cekung dan berlumut karena telah terkikis oleh tetesan ribuan air sekian lamanya.
Aku diam dan merenung. Merambah masa laluku. Angin menyapa lembut raut wajahku yang mulai muram. “Ayah… Ibu… Di mana kalian kini? Aku ingin bertemu…” Rindu yang begitu menusuk sukmaku. Aku bingung. Adakalanya, aku ingin menangis karena kerinduanku yang teramat sangat. Adakala dimana aku ingin marah, kenapa mereka tega mencampakkanku. Sendiri, tanpa dosa, di atas tumpukkan sampah. Yang bisa kulakukan hanyalah berdoa, “Tuhann, tolong.. untuk sekali saja, pertemukanlah aku dengan mereka.. Hanya satu pintaku, Tuhan…”
Air mata setia untuk mengalir. Deras di pipiku. Seorang anak yang hidup dalam kesendirian tanpa kedua orangtua, tanpa saudara kandung. Hidup terlalu berat untuk kujalani.
Perlahan, aku membuka mata. Tampak samar pandanganku karena masih dipenuhi bulir-bulir air mata yang hendak tumpah. Jauh di sana, kicauan burung terdengar samar-samar. Langit tampak pucat merah. Masih ada mendung di sana. Matahari tak bersinar secerah hari biasa. Kabut benar-benar berkuasa. Membenamkan rasa kesendirian. Hela nafasku semakin sesak.
Aku mengusap mataku, menghapus air mata di sana. Aku tahu.. waktu tidak ‘kan mungkin berjalan mundur, bahkan bila aku memohon. Tidak mungkin aku dapat menoleh ke masa laluku, dan mencari asal-usulku. Tidak. Tidak mungkin. Yang kini harus kulakukan bukanlah merenung. Merenungkan sesuatu yang mustahil. Aku harus kuat, aku harus tabah. Hidupku, harus berjalan dengan semestinya. Meski aku tak mengetahui kedua orangtuaku siapa dan di mana.
Pelan, aku bangkit dari batu yang telah lama kududuki, hingga rasanya tak sedingin awal. Sehangat perasaanku, yang perlahan mulai menerima kenyataan hidup. Aku meraih karungku di sana. Berdiri sejenak dan melihat sekeliling. Tidak ada yang berubah dari keadaan mereka. Aku sadar, “Sesuatu tidak mungkin dapat berubah, kecuali jika ada yang merubah keadaannya menjadi yang lain”, pikirku dalam hati.
Angin berhembus perlahan. Menjemputku kembali dan membisikkan kata-kata. Menemani langkahku selama aku berjalan. Kembali bekerja sebagai seorang pemulung, demi kehidupanku.
“Aku masih punya Mbok Sarmi. Aku tak perlu takut kesepian.”, tekadku dalam hati. Sambil berlalu dari bukit itu aku mengucap doa kepada Sang Illahi, “Tuhan, aku sungguh bersyukur atas segala anugerah-Mu. Aku bukanlah seorang anak yang kesepian, karena Engkau telah telah mengirimkan malaikat dalam kehidupanku yang menjadikanku tidak sendiri lagi, Mbok Sarmi. Terima kasih atas segalanya, Tuhan. Lindungilah kedua oarngtuaku selalu, kapan saja dan di mana saja, meski aku tak pernah menyapa dan membelainya. Kabulkanlah doaku Ya Allah.. Amin”
Aku menuruni bukit itu dan kurasakan mentari tampak bersinar cerah. Awan mendung memberikan jalan bagi sinarnya, untuk menghangatkan hati yang dingin. Dan menghibur hati yang sedang berduka, menyinggirkan laranya. Alam kini mulai tersenyum. Di ufuk timur, kulihat angkasa bercahaya. Menebar senyum kebahagiaan. Aku berlalu dari sana, dan tersenyum bahagia.
“Terima Kasih, Tuhan..”

Sabtu, 31 Januari 2015

RENUNGAN



JANGAN ABAIKAN INI!! !                          
“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepada-ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu. hanya kepada-ku-lah kembalimu.”
                                      (QS.Luqman: 14)

Selama masa Sembilan bulan, itu bukanlah saat-saat yang mudah atau ringan, ada banyak keluhan yang aku harus hadapi dan aku tanggung dengan penuh kesabaran. itulah yang harus di tanggung seorang perempuan yang kelak disebut dengan panggilan ibu, bunda, ummi, mamak, atau mom dan sebagainya. aku terus menyimpan bayangan yang serba indah tentang buah hati yang akan segera lahir kedunia. betapa indahnya ketika si kecil terlahir dengan bentuk yang utuh, lucu dan menggemaskan. betapa bahagianya ketika aku menyusui si kecil, memeluknya dalam dekapan kehangatan, dan menggendongnya hingga ia terlelap dalam tidur. betapa berharganya seorang anak yang akan merawat dan menyayangi aku ketika aku sudah lanjut usia, ketika aku tidak lagi bisa berjalan, dan ketika aku tidak bisa mengenali siapapun.
Kehidupanku terasa sangat sempurna, ketika anak pertama yang aku tunggu-tunggu terlahir kedunia dalam keadaan sehat. wajah yang lucu, kulit yang masih merah, bibir yang masih tipis menagis dipelukanku. aku tak bisa membendung air mata yang keluar karena ia terlahir dengan normal dan begitu sempurna di mataku. detik-detik melahirkan, aku menangis, meraung, menjerit, hingga hilang perih dan sepi. tetapi semua yang aku rasakan hanya ada satu, anak ku bisa selamat. hanya itu kata yang ingin ku ucapkan kepada semua orang yang ada dirumah sakit, tapi aku tidak bisa berbicara karna rasa sakit. karna rasa sakit itu, sudah menghantui ku sejak berjam-jam yang lalu.  sejak malam mulai dingin, sejak jalan mulai senyap. disitu aku merasakan sakit yang bertambah-tambah, sakit yang menyusuk-nyusuk ubun-ubunku. aku pendarahan hebat saat itu, sampai-sampai semua orang merasa cemas dan pucat di ruang tunggu.
“Selamat buk, anak ibu laki-laki yang sehat” kalimat ini yang ingin selalu aku dengar dan kurekam dalam memori otak, karna aku tidak ingin menghapusnya apalagi melupakannya. semua rasa sakit yang kurasakan berjam-jam yang lalu, semuanya telah sirna. tangisan bayi yang lucu dan mungil, membuat rasa sakit ini terobati.

SAKIT
Rasa sayang ini takan pernah hilang ataupun bisa tergantikan dengan yang lain. ketika si kecil  menagis di sepertiga malam, aku kuatir dan merasa takut dengan anak ku. sampai-sampai aku tidak bisa tidur hingga petang merambat keluar jendela. ku ambil obat dan ku kompres badanya yang hangat. sedikitpun rasa kesal dan benci tidak pernah terlintas dalam pikiran, yang ada hanya rasa sayang dan sayang yang terlalu besar. aku tau, badan ku juga tidak sehat. setiap malam aku harus bergadang demi si kecil, setiap malam aku bernyayi demi mereda tangisan-nya.
Malam terasa siang ku rasakan. ku merawat dengan penuh amanah sang pencipta, membelai dengan kasih sayang dan pengorbanan. tak ku hiraukan arah angin yang kadang-kadang berubah-ubah.

BERANJAK BESAR
Ketika pagi datang, aku dengan sigap membuka mata secepat kilat. aku tidak mau sedetikpun terlambat bangun dan membuat serapan untuk anakku. si kecil, bukanlah si kecil lagi. ia sekarang sudah tumbuh dewasa. ketika beranjak lima tahun, aku daftarkan ia di sekolah playgroup. aku berharap ia lebih pintar dan lebih tinggi derajatnya dari aku saat ini. ketika hari pertama masuk sekolah, aku harus menunggui dari mulai hingga selesai kelas, karena tidak semua anak yang mau di tinggal begitu saja di sekolah ketika hari pertama sekolah. belum lagi ketika ia rewel, ngambek, dan nangis ingin pulang saja, atau tidak mau sekolah. dengan kesabaran aku terus membujuknya supaya ia mau masuk sekolah. padahal, itu semata-mata untuk masa depanya, bukan untuk aku.
Ketika aku berjalan-jalan di taman, ia selalu mengulang-ulangi permintaan-nya, yaitu meminta balon. ia mengulangi permintaan itu sampai aku harus  membelikan-nya. ketika ia bertanya tentang sesuatu yang tidak ia tau, ia akan bertanya pada ku berulang-ulang kali. pernah terlintas rasa kesal, akibat selalu mengulang-ulang jawaban yang itu-itu saja. tapi rasa itu aku buang jauh-jauh kedasar jurang lalu aku pendam. ketika ia beranjak dewasa, aku selalu menanamkan budi pekerti, cara bergaul yang baik dengan temanya, guru, dan orang lebih tua darinya. itu semata-mata agar ia memjadi anak yang baik.

RENUNGAN
kalian semua adalah pemimpin (penggembala) dan akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya atas pimpinannya. seorang lelaki adalah pemimpin bagi istrinya, kelak akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya, seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, kelak akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari-Muslim). dari hadist di atas, terpancar jelas bahwa seorang ibu tidak hanya mengemban tugas mengandung, melahirkan, dan menyusui selama dua tahun. tetapi lebih lengkap, yakni merawat, menjaga, sekaligus mendidiknya. tanggung jawab itu mungkin terasa berat, tetapi itulah keistimewaan yang dikaruniakan Allah kepadanya, dibanding dengan makhluk-makhluk yang lain. Allah juga memberi kelebihan berupa surga di telapak kakinya, yakni bagi anak-anaknya. ibu melakukannya dengan ikhlas tampa terpaksa
sampai saat ini, sudahkah kita membalas budinya?
sudahkah kita membahagiakannya?
betapa tidak baiknya, jika kita kadang marah kepadanya, atau membantah perintahnya. betapa durhakanya jika kita menyakitinya atau membuatnya menitikkan airmata karena ulah kita. “barangsiapa yang merelakan diri terhadap kedua orang tuanya berarti ia rela (senang) terhadap Allah, dan barangsiapa yang memarahi kedua orang tuanya maka ia seperti memarahi Allah.”(HR. Bukhari).

MENIKAH
Ketika kamu menikah, aku merasa kesepian disini. berteman dengan sepi dan dingin. kemanahkah kamu sekarang, aku disini merindukanmu, merindukan tangisan mu, tertawaanmu, dan sifat ngambekmu. apa kamu lupa dengan aku, tapi mana mungkin kamu bisa lupa dengan aku. pasti kamu sibuk atau sedang ada kerjaan disana. aku hanya berharap, jangan lupa pulang kerumah.
Dan ketika aku berjumpa dengan mu, dan tinggal bersamamu. aku merasa sangat senang, sekarang kamu sudah sukses dan mempunyai seorang anak yang sekaligus menjadi cucuku. tapi kenapa kamu sedikit berubah padaku. sekarang kau terlihat lebih kasar, kalau sedang pulang kerja. mungkin kamu kecapean atau sedang ada masalah di kantor.
Maafkan aku yang selalu memecahkan piring saat aku sedang makan, karna tanggan ku tidak lagi kuat memegang piring yang terlalu berat. dan maafkan aku yang selalu menggulang-ngulangi pertanyaan yang itu-itu saja, karna aku sudah banyak yang lupa. aku senang bisa bermain dengan cucu-cucuku, walau menantuku selalu melarangku untuk dekat dengan anaknya, karna aku bau. aku bau bukan aku kotor, aku bau karna aku tidak tahan saat mandi, karna airnya terlalu dingin yang menyusuk-nyusuk kulitku.
Kamu masih ingat gk, saat itu kamu meminta balon di taman. kamu selalu menari-narik celanaku, sambil meminta berulang-ulang, sampai aku membelikanya, baru kamu diam. dan kamu masih ingat gk, ketika kamu tidak mau makan dan kamu berlari-lari. aku berusaha mengejar kamu, hanya untuk sesendok nasi yang masuk kemulutmu. sekarang kamu sudah besar dan memiliki seorang anak, aku hanya berharap didiklah anak mu dengan kasih sayang, sebagaimana aku menyayangimu sewaktu kamu masih kecil.

RENUNGAN II
dari abu hurairah ra. ia berkata: seorang laki-laki bertanya kepada rasulullah saw., “ya rasulullah! siapa dari keluargaku yang berhak atas kebaktianku yang terbaik?” beliau menjawab, “ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian baru bapakmu, kemudian yang terdekat denganmu, yang terdekat!” (HR. Muslim).
Dari hadist diatas menjelaskan, bahwa kebaktian kita semasa hidup kita tujukan terutama kepada ibu kita lalu ayah kita, kemudian yang terdekat dengan kita. subhanallah, betapa mulianya ibu dan ayah. kita wajib berbakti kepada sosok mulia yang tampa perantaranya kita tak akan terlahir di dunia ini. sampai-sampai berbakti kepada ibu dan ayah hukumnya wajib. sebanding dengan kewajiban shalat, zakat, dan puasa. bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa berbakti kepada ibu dan ayah sebanding dengan menyembah Allah swt. “Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu-bapak dengan sebaik-baiknya.”(QS. al-Isra’:23). Abdullah bin amru bin ash ra. menceritakan, bahwa seorang lelaki datang menghadap Muhammad rasulullah saw. lalu lelaki itu berkata, “aku bai’at (berjanji setia) dengan engkau akan ikut hijrah dan jihad, karena kau ingin memperoleh pahala dari Allah swt.”
“Apakah orang tuamu masih hidup” Tanya nabi.
“Bahkan keduanya masih hidup”jawab lelaki tersebut.
“Apakah kamu mengharapkan pahala dari Allah?”
“Benar, ya rasullah”
“Pulanglah kamu kepada kedua orang tuamu, lalu berbaktilah kepada keduanya sebaik-baiknya,” perintah rasulullah saw. (HR. Muslim).
ada banyak cara untuk menunjukkan bukti kecintaan dan kebaktian kita kepada ibu dan ayah. di antaranya:
o  berbicara dengan bahasa yang sopan santun kepada keduanya
o  berbuat baik kepada ibu dan ayah
o  menyenangkan hati ibu dan ayah
o  bersedekah untuk ibu dan ayah
o  berhaji untuk ibu dan ayah
o  meminta maaf kepada ibu dan ayah

walaupun hari ini bukan hari ibu
tetap ku katakana I love mom
sebenarnya aku tidak tahu harus melukis bagian
mana dari wajahmu
karna wajahmu terlalu banyak cahaya ketegaran
sehingga aku tidak dapat melukis garis-garis wajahmu

ingin ku berlari jauh, jauh di ujung sana
dan berteriak serak, terjatuh
namun ku membisu dan mematung
ingin ku melompat dari gedung tinggi itu
namun aku takut, ada yang menampung ku
dari dasar tanah

kau itu malaikat tampa sayap
mungkin, sayapmu kau lepas untukku
mungkin, sayapmu kau jual demiku

aku tidak bisa terlalu lama berdiri menungu sepi
sunyi, dan meredahnya hembusan angin
aku ingin mengatakan
kau adalah nafasku
kau adalah urat nadiku
aku sayang kamu ma!

CIIMUMUTZ.BLOGSPOT.COM


Kamis, 22 Januari 2015

bakso atu rinso



Andi sedang bermain bola bersama teman-temannya di taman dekat tempat tinggalnya saat Ibunya memanggil.
“Andi, kemari nak. Ibu perlu bantuan kamu ni..” teriak Ibunya dari teras rumahnya yang tak jauh dari taman.
“Bentar ah Bu.. Nanggung ni mainnya..” sahut Andi sambil melempar bola yang digenggamnya, karena ia bertugas sebagai penjaga gawang.
“Nanggung-nanggung? Gigimu nanggung. Yakin ni nggak mau. Ntar nggak Ibu bikinin puding baru tau rasa..”
“Iya deh, iya. Andi bantuin.” potong Andi sebelum Ibunya selesai berbicara, kerena ia sangat suka dengan puding buatan Ibunya.
Andi pun memilih berhenti bermain bola dan bergegas menemui Ibunya yang membutuhkan bantuan dirinya.
“kenapa Bu..?” ucap Andi begitu sampai di teras rumahnya.
“Ibu mau nyuci, tapi deterjen Ibu habis. Kamu belikan rinso gih di warung Mak Inong. Ini uangnya 10 ribu, jangan lupa kembaliannya. Ntar kamu jajanin lagi kayak kemarin. Kalau kembaliannya berkurang, Ibu kurangin juga jatah puding kamu.” Jelas Ibunya panjang lebar.
Andi yang baru bersekolah di tingkat SD kelas tiga tersebut hanya menjawabnya dengan kata “iya” yang disertai dengan anggukan lugunya dengan ekspresi wajah cemberutnya. Ia berjalan pelan meninggalkan Ibunya di teras rumah.
Di tengah perjalanan yang lumayan sepi, ia melihat seorang pengendara sepeda motor yang melaju dengan kecepatan tinggi dan tiba-tiba “Brraaakkk…” pengendara tersebut menabrak seorang Ibu-Ibu paruh baya yang sepertinya sehabis berbelanja di Pasar Sore. Barang-barang belanjaannya berserakan di jalanan, sementara pengendara yang menabrak Ibu tersebut melarikan diri dengan sepeda motor miliknya. Andi yang berada di dekat tempat kejadian dan melihatnya secara langsung menjadi shock. Pasalnya hanya dia seorang yang berada di tempat itu, tempat yang terbilang cukup sepi. Meskipun sedikit ragu dan gemetaran, anak yang baru berusia 9 tahun tersebut memberanikan dirinya untuk mendekati si korban. Ia pun berteriak keras meminta tolong “Tolong… tolong… tolong.. Ada yang kecelakaan…” Warga yang mendengar teriakan Andi bergegas mencari dan mendekati sumber suara.
Ketika banyak warga yang datang, bukannya membuat segalanya menjadi lebih mudah, justru memperburuk kecemasan Andi karena warga yang datang tidak bergegas menolong korban melainkan mananyakan kronolis kejadiannya kepada Andi. Ia hanya terdiam terpaku, tanpa sepatah kata pun muncul dari bibir kecilnya. Beberapa di antara warga yang menyadari akan keadaan Andi segera membawa korban ke klinik terdekat.
Lambat laun, warga yang berada di sekitar kejadian segera membubarkan diri. “huufftt.. Akhirnya lega juga.” batinnya. Awan hitam di angkasa yang dihiasi petir yang menggelegar menyadarkan Andi bahwa ia sedang disuruh oleh Ibunya membeli sesuatu di warung Mak Inong. Ia pun berlari menuju warung Mak Inong. Sementara itu, Ibunya yang berada di rumah mulai mencemaskan anak bungsunya yang sedari tadi tak kunjung kembali ke rumahnya mengingat langit yang semakin gelap perlahan meneteskan rintikan hujan.
Sesampainya di warung Mak Inong, Andi berpikir sejenak, mengingat-ingat apa yang disuruh Ibunya beli. “Owh.. Ibu tadi menyuruhku membeli rinso” pikirnya. Ia pun memesan rinso pada Mak Inong “Mak, rinsonya 1 bungkus ya.” Mak Inong pun segera mengambilkan rinso untuknya. Disaat yang bersamaan, Andi melihat keadaan di luar warung yang telah hujan.
“Heh?!” Ia seolah tersadar dari keadaan “hari lagi hujan. Buat apa rinso? Masa’ iya Ibu mau nyuci? Bakso kali.. kan enak kalau makan bakso dingin-dingin gini. Eh, tapi tadi kayaknya Ibu nyuruh aku beli rinso lah. Aduh, gimana ni, bakso atau rinso…” bisiknya dalam hati.
“Ndi, ini rinsonya.” ucap Mak Inong sembari memberikan rinsonya.
“Aduh, Mak. Nggak jadi deh, beli baksonya aja 1 bungkus. Di bungkus ya Mak…” jawab Andi mengembalikan rinsonya.
“Kamu ini gimana sih, tadi katanya rinso sekarang bilang bakso.” jawab Mak Inong sedikit jengkel karena merasa dipermainkan oleh Andi.
“Hehe.. Salah Mak..” jawabnya mesam-mesem. Andi pun memberikan uang 10 ribu yang diberikan Ibunya tadi dan Mak Inong segera membungkuskannya untuk Andi. Kemudian uang kembali 5 ribu.
Setelah menerima bakso dan kembalian uang dari Mak Inong, Andi bergegas pulang ke rumahnya karena ia yakin Ibunya pasti mencemaskannya. Sesampainya di rumah, Ibunya berkata, “Kamu ini, kok lama sekali. Dari tadi Ibu tungguin juga. Ya sudah, mana rinsonya?”
“Hah?” jawab Andi dengan terpelongok, ekspresi wajah yang membuat orang terkekeh melihatnya. Gemetaran ia memberikan kantong plastik hitam yang ada digenggamannya.
“Andi… Ibu menyuruh kamu membeli rinso, bukan bakso…” geram Ibunya sembari menjewer kuping anaknya.
“Aduh-aduuhhh, ampun Bu.. Andi nggak ingat. Soalnya kan hujan. Jadi Andi pikir Ibu menyuruh beli bakso” Jawab Andi tertunduk merasa bersalah.
“Ya sudah, kamu ambil mangkuk sana di belakang. Kita makan bakso sama-sama.”
Andi pun berjalan pelan menuju dapur rumahnya untuk mengambil mangkuk. Ia kembali dengan memberikan mangkuk kepada Ibunya dan kemudian Ibunya menuangkan bakso ke dalam mangkuk tersebut.
Ibu: Enak juga Ndi baksonya..
Andi: ……

Jumat, 09 Januari 2015

cinta biasa

Cinta itu ibarat perang, berawalan dengan mudah namun sulit di akhiri.

Suatu hari, bermula dari pertemuan-pertemuan yang menyenangkan disekolah. Kebiasaan-kebiasaan ramah, saling bertatap wajah. Bercanda gurau habiskan masa-masa sekolah (dari tk, sd, smp, sampe sma) penuh suka, penuh gembira. Hingga akhirnya tercipta sebuah rasa yang dinamakan cinta.

***

Tak terasa masa-masa sekolah akan berakhir didepan mata. Masa muda yang penuh cita siap menantang dunia berupaya mengubah jalan cerita di hidupnya. Kemudian ada cinta yang merangkul rasa menemani ceria yang sebentar lagi akan berbalut luka. Karna akan berpisah selamanya.

Begini ceritanya,

Anatasha dan Reza, sejak kecil sampai remaja selalu bersama. Alasan apapun tak pernah membuat mereka berpisah. Tak pula mereka hanya sahabat saja, melainkan sejoli yang tangguh dan kokoh dalam cintanya.

Meski Reza tau Anatasha tak bisa bertahan hidup lebih lama darinya. Hal itu tak membuatnya goyah ataupun menyerah mencintai kekasihnya. Hanya saja, Reza tak kuasa menahan airmatanya manakala Anatasha memintanya pergi dan mencari pengganti dirinya yang tak sampai 1 bulan lamanya menikmati dunia.

Bukit berbunga, tepat dibelakang sekolah akan jadi saksi cinta mereka yang setia. Tempat favorit yang sering mereka kunjungi untuk mendengarkan lagu kesukaan bersama, belajar bersama, menikmati indahnya sunset yang jingga, tempat yang penuh akan kenagan manis mereka.

Itu semua akan jadi kenangan yang kemudian akan segera pudar sebagaimana tinta hitam yang melekat pada kertas putih kemudian terkena air lalu memudar dan akhirnya menghilang.
***

Ada pula cinta yang coba memaksa, datang menghantui Reza, memburamkan pandangannya agar Anastasha menghilang dari hatinya. Lantas cinta itu tak kuat merasuk ke hatinya hingga hilang dan berlalu begitu saja. Anatasha lah pemilik hati Reza seutuhnya. Hingga tak ada celah yang tersisa.

Tak sedikit air mata Reza yang tertumpah untuk Anatasha, manakala melihat tempat yang sering mereka lalui berdua hanya akan jadi kenangan.

Tak kalah hebat cinta Anatasha untuk Reza, korban rasa jadi hal biasa untuknya. Berpura-pura lupa telah mencinta, menyiksa hatinya demi kebohongan belaka. Hingga Reza tak terluka lagi dihatinya. Meski ceroboh tapi Anatasha melakukan yang terbaik untuk kekasihnya.

Tak terasa sampai pada waktu dimana 1 bulan kebersamaan mereka hanya tersisa 1 jam saja.

T ak banyak yang bisa dipersembahkan Reza untuk Anatasha yang waktunya hanya tersisa satu jam saja. Kemudian handphonenya berdering. Tak lama membuka handphone, airmatanya bercucuran di pipi. ‘waktu anda tersisa 1 jam’ begitulah tertulis pada catatan handphonenya. Pantas airmatanya berderai.

“Kenapa Reza menangis.”

“Aku hanya bahagia pernah berdampingan denganmu. Airmata ini sepertinya tulus keluar dari mataku,” Reza hanya tersenyum agar Anatasha tak mengkhawatirkan perasaannya.

“Meski itu bohong tapi aku bahagia mendengar ucapanmu,” tepisnya ragu perasaan Reza.

Reza hanya tersenyum. Kemudian bergerak, jalan menuju Anastasha.

“Hanya ada satu jam waktuku bersamamu, lalu apa yang kamu inginkan dariku? Apa aku harus melompat dari gedung tertinggi itu,” ujar Reza menunjuk gedung paling tinggi ditempat mereka berada, “Atau kamu mau aku menunggumu kembali?” lanjut Reza.

Airmata tulus mulai meleleh dari mata Anatasha. “Sudah saatnya cintamu diperbarui!!! Hari ini kurasa cintamu sudah sampai dibatas akhir.”

“Kalaupun kudapatkan kesempatan itu. Aku hanya ingin memperbarui cintaku dengan orang yang sama bukan dengan yang baru.”

“Bagaimana jika orang yang sama itu tiba-tiba menghilang?”

“Aku akan menunggunya kembali!!! Kapanpun aku menemukannya, aku akan mencintainya lagi. Seperti ini, iya benar-benar seperti ini.”

Anatasha menangis tanpa suara, melangkah tak bernada, kemudian bergerak, berdiri tepat membelakangi lelaki yang di cintainya.

“Waktumu hanya tersisa setengah jam. Lalu apa yang kamu inginkan dariku?”

“Gendong aku kemanapun kamu mau, kemudian bila aku diam, jangan pernah menoleh kebelakang. Jangan pernah berbalik melihatku, biarkan aku menghilang.”

“Sekali lagi aku mohon, saat aku tiada jangan pernah berbalik untuk mencariku, biarkan saja aku menghilang. Kumohon biarkan aku jadi bagian terindah dimasa lalumu. Biarkan aku tergantikan oleh orang lain.” Lanjut Anatasha terbata-bata dengan airmata yang membasahi pipinya.

“Bagaimana kubisa lakukan itu? Sementara sebentar saja aku tak melihatmu, aku berlari mencarimu. Mungkinkah aku bisa membiarkanmu pergi untuk selamanya? Aku tak akan menemukanmu lagi meski aku berlari lebih cepat dari biasanya.”

“Sebelum bertemu denganmu, aku hanya punya lem dan benang ditepian hatiku. Kemudian kamu datang merajut hatiku dengan benang itu, dan kamu kuatkan rajutan itu dengan lemnya. Lantas, bagaimana ia akan terbuka lagi?” lanjut Reza dengan airmata yang perlahan menetes.

“Biarkan ia sampai mengeras, tak lama ia akan pecah. Kemudian ada celah yang terbuka disana. Perlahan benangnya akan putus karna rapuh. Lalu ia sepenuhnya akan terbuka.”

“Tidak….! Jika benangnya putus dan hatiku terbuka, aku akan merajutnya kembali, meski itu menyakitkan. Tapi aku akan melakukannya.”

“Biarkan saja ia terbuka.” Suara Anatasha mulai letih, matanya terpejam. Tak lama badannya memberat.

Akhirnya, cinta mereka berhenti pada masa yang berbahagia. Dimana mereka saling tau apa yang dirasa, meski airmata yang jadi saksinya. Cukup yang dicinta tau apa yang di rasa, itu sudah cukup untuk bahagia.

blog: ciimumutz.blogspot.com

gadis itu safira

Sayup angin malam yang simpang siur mampir lewat celah jendela berkusen jati coklat sambil menggores sedikit candanya di sela-sela kaca yang masih terlihat bening. Saya tidak tahu, apakah saya akan terlelap dalam mimpi atau tetap melamun di atas kursi goyang tua sambil menatap pohon di luar jendela yang menitikkan daunnya perlahan. Mungkin saya lebih memilih untuk tetap begitu. Ya, menanti fajar datang adalah suatu harapan bagi saya, pekerjaan saya yang sama amat pentingnya selain mengamati suatu objek dalam celah kecil yang bersenjatakan bidikan dan buram tidaknya sesuatu dari apa yang saya lihat. Saya seorang fotografer, atau saya lebih suka menyebutnya pekerjaan ‘pencuri kenangan’. Saya pernah melihat apa saja di balik celah kecil berlapis lensa itu. Sekumpulan orang-orang yang terlibat dalam hiruk pikuk dunia, lapisan biru dan putih yang menjulang lebar ke angkasa, atau mungkin hanya sebatas air mata langit yang mulai pekat dan basah.
“apa yang kamu bidik, tuan?” sapa seorang gadis berseragam putih abu-abu mengagetkan saya. Saya berfikir malas untuk menjawabnya. Tidak lihatkah dia saya sedang memotret? Gerutu saya dalam hati.
“apa yang kamu bidik, tuan?” tanya gadis itu sekali lagi. Kali ini lebih keras. Hati saya makin kesal dibuatnya. Dia menanyakan pertanyaan yang sudah pasti hingga dua kali. Mungkin saya harus menjawabnya, agar dia cepat pergi dan tidak mengganggu lagi.
“memotret” saya sengaja menjawab singkat dengan acuh, agar dia berfikir, bukan, dia harus berfikir kehadirannya mengganggu saya dan saya ingin dia pergi.
Dia tertawa, tersenyum dan kembali tertawa. Saya mulai berpikir dia gila. Ada seorang siswi dari sebuah sekolah yang mengalami gangguan jiwa dan sekarang mengganggu saya. Saya berfikir untuk lari dan meninggalkan gadis itu, bisa gawat bila ada yang melihat saya berbicara dengan orang gila. Tiba-tiba gadis itu membalikkan badan, dan langsung berlari kecil pergi meninggalkan saya. Sesaat sebelum ia pergi, saya sempat mendengarkan walau lirih di antara senyumnya, dia menyebut sesuatu di bibir mungilnya. “safira”.
Saya masih memutar-mutar fokus lensa di kamera jadul saya di sebuah taman kecil yang terdapat gubuk di pinggirannya, di sebelah gubuk itu terdapat sebuah pohon yang sangat lebat daunnya. Kali ini langit sangat mendung dan saya tidak tahu harus berbuat apa karena payung saya tinggalkan di rumah. Sementara saya berkosentrasi dengan gambar yang saya intip di balik celah kaca kecil pada kamera itu, gadis berseragam putih abu-abu kemarin tiba-tiba berlari menuju saya. Disusul titik air langit yang berubah menjadi hujaman panah air dan sambaran kilat yang menyala-nyala seketika itu juga. Saya sempat memotret gadis itu sebelum dia benar-benar datang dan sebelum air menetes di kamera kesayangan saya ini.
Gadis itu berlari sangat cepat, dia sudah ada di samping saya sekarang. Saya masih sibuk memasukkan benda berlensa itu ke dalam tas hitam kecil bertuliskan ‘canon’ di sisi luarnya. Gadis itu kini terlihat lebih diam, tidak seaneh waktu saat pertama bertemu dengannya, di tempat yang sama. Saya tidak sempat memperhatikan wajahnya kemarin, saya baru sadar dia memliki rambut di bawah bahu dengan warna coklat gelap. Dia juga memiliki bola mata yang bulat berwarna hitam pekat. Saya terus memperhatikannya tanpa sadar. Padahal dia adalah seorang gadis aneh yang suka sekali tertawa kemarin, tapi kali ini hujan membuatnya beda, sangat berbeda.
“kau juga suka memotret hujan, tuan?”
“ya, tentu. Siapa yang tidak suka hujan”
“lalu kenapa kau tidak keluarkan kameramu sekarang?” lagi-lagi dia bertanya sesuatu yang sudah sangat pasti untuk dijawab. Jelas saja, bila saya keluarkan kamera itu sekarang, air bisa masuk ke sela-sela kamera dan bisa membuatnya rusak, entah apa yang dipikirkannya.
“aku menunggu hujan reda”
“kau bilang kau suka hujan”
Bodoh, saya terjebak dengan pertanyaannya, gadis aneh itu memegang kendali sekarang. Ingin saya menjawabnya, tapi percuma saja, malah nanti saya yang terlihat bodoh menanggapinya.
Hujan sudah mulai usai, dia merapikan rambutnya dan sudah bersiap untuk pergi. Kali ini dia tersenyum, sambil meletakkan tangannya di udara untuk sedikit bermain dengan tetesan yang jatuh dari atas gubuk.
“hujan sudah reda, kau tidak memotret, tuan?”
“berhenti memanggilku tuan, aku bukan tuanmu”
“mungkin, aku hanya tidak tau cara memanggilmu”
“leo”
“kau sudah dengar namaku kemarin, leo” ucapnya sambil keluar dari bawah gubuk. Dia langsung melangkahkan rok abu-abu itu ke balik tikungan di ujung taman. Dia sudah pergi sekarang, menyisakan nama untuk dibawa pulang bersamanya. Saya keluarkan kamera itu lagi, mencari-cari gadis yang saya tangkap di dalamnya, dan menemukan satu gambar yang persis di antaranya.
Sejak kejadian itu, gadis itu sering datang ke taman kecil tempat dimana saya sering mencari objek untuk dicuri setiap kenangannya lewat alat khusus yang orang-orang sebut ‘kamera’. Entahlah, mungkin sebelum bertemu saya, gadis itu juga sudah sering berkunjung ke taman ini, lagipula ini taman umum, semua orang bisa menginjakkan kakinya kapanpun mereka mau, walaupun setiap hari yang saya temukan adalah kesunyian di taman ini. Kadang dia datang saat senja mulai turun, saya juga sering sengaja menghabiskan waktu untuk menunggunya datang dan memperlihatkan hasil-hasil tangkapan gambar saya. Dia sering tersenyum, bahkan tertawa. Dia juga sangat senang berkhayal, berkhayal apa saja. Dia banyak bercerita tentang makhluk bernama “warewolf” dan bermimpi akan ada “warewolf” miliknya sendiri untuk menjaganya. Dia juga suka bercerita tentang bintang dan langit malam. Sempat kami bertemu di malam hari, atau mungkin, tengah malam. Saat itu kami melihat angkasa yang ditaburi bintang-bintang sunyi tanpa berkata apa-apa. Bintang itu tidak banyak berkomentar mengapa langit malam yang ditemaninya selalu kelihatan gelap dan murung. Saya menikmati setiap waktu bersamanya, kadang bercanda ketika dia menceritakan semua khayalannya. Begitu juga dia, tidak ragu untuk tertawa atau kadang tersenyum kecil saat saya menggodanya dengan kenangan-kenangan yang sudah ‘dicuri’ lewat benda jadul saya.
“apakah malam akan selalu gelap dan selalu begitu?” ungkap gadis itu pelan.
“hm, entahlah. Bukankah cahaya-cahaya bintang dan bulan terlihat begitu terang disana?”
“siapa yang berani menjamin bintang dan bulan itu tidak akan pergi?”
“aku bertaruh mereka tidak akan pergi”
Malam itu terasa sangat dingin, rasanya angin merasuki darah dan menusuk tulang. Saat itu saya hanya melihat mata gadis itu berpantul cahaya bulan, disusul senyum tipisnya yang manis. Entah dari kapan saya memperhatikannya, tapi sekarang saya tahu, saya memperhatikannya. Di balik malam yang sunyi itu, hanya saya dan gadis itu. Menghabiskan waktu dengan bercanda sambil sesekali terdiam mendengar alam yang berbisik. Atau bahkan berkhayal akan sesuatu yang terjadi, entah dimanapun itu, membuat malam itu terasa semakin lengkap bersama paduan jangkrik yang berkumandang di balik kumpulan semak.
Malam berikutnya, gadis itu tidak datang. Seperti malam berikutnya, berikutnya, sampai selanjutya. Dia tidak datang lagi, walau saya menunggu di taman itu seharian. Saya tidak tahu harus mencari kemana, saya hanya mengenal dia dengan sebuah nama, safira. Saya tidak tahu kehidupannya, bahkan selepas sekian pembicaraan kami, dia, ataupun saya tidak pernah menyinggung tentang kehidupan pribadi masing-masing. Saya selalu menunggu dia. Barangkali bila saya sabar sedikit lagi, dia pasti akan kembali dan menceritakan semua khayalannya lagi dengan senyum yang terhias di wajahnya. Tapi dia tidak datang. Tidak peduli saya menunggu berapa lama, dia tidak pernah datang lagi.
Satu gelas teh hangat sudah habis tadi malam, saya masih sedikit terngantuk-ngantuk setelah melewati mimpi fajar di atas kursi goyang tua. Rasanya pinggang saya sakit, mungkin karena saya lebih sering duduk daripada bergerak. Di usia saya sekarang, mungkin itu wajar, tapi sungguh, ini sangat merepotkan dan melelahkan. Saya perhatikan pohon di luar jendela, daunnya masih tetap rimbun. Walau sudah banyak yang gugur. Saya melihatnya buram, penglihatan saya sudah agak kabur. Kacamata bergagang emas saya kenakan, membuat semua di balik kaca persegi empat itu terlihat jelas. Ya, daun di pohon itu masih tetap rimbun, walau sudah banyak yang jatuh.
Sampai sekarang saya masih ingat, ini adalah pohon di samping gubuk kecil waktu itu. Masih tetap rimbun walau ukurannya sudah lebih besar. Saya menatap pohon itu dengan haru. Teringat saya dengan gadis itu. Gadis yang selalu berkhayal dan bercerita tentang semua yang dipikirkannya tanpa ragu. Gadis yang matanya bersinar saat melihat banyak bintang di langit malam. Saya menitikkan air mata untuk mengenangnya, bersama rumah yang saya bangun tepat setelah taman itu terbengkalai dan dibangun ulang. Saya bersikeras untuk tidak menebang pohon yang daunnya selalu rimbun itu. Para warga mengabulkannya. Akhirnya tinggalah saya disitu, rumah di samping pohon kecil berdaun rimbun.
Mata saya masih terbungkus kacamata yang menempel di sela-sela daun telinga saya. Pandangan saya tetap lurus ke depan mengikuti gerak daun-daun yang berjatuhan. Tiba-tiba seorang wanita datang di luar pagar halaman saya. Dia memperhatikan pohon itu sejenak. Dia memperhatikan pohon itu lama sekali, sampai sesekali tersenyum sendiri. Saya merasa pernah melihatnya, mata dan senyumnya yang khas itu, walaupun sudah dikerumuni garis-garis wajah akibat faktor usia. Dia melihat saya dari luar rumah, lewat jendela bening yang selalu saya bersihkan agar bisa melihat keluar dengan jelas. Matanya masih memandang saya. Begitu pula saya, saya telusuri setiap wajah dalam khayalan yang sering sekali mampir saat saya tidur. Saya tersenyum, mengambil kamera dalam tas kecil di samping kursi goyang tua itu. Saya hidupkan mesin yang sudah tua itu, saya bidik dan saya atur fokusnya untuk lebih memperjelas wajah itu, wajah di balik jendela dan pohon berdaun rimbun.
Jari sudah saya tekan, bayangan dari apa yang saya lihat sudah tersimpan di mesin ‘pencuri kenangan’ itu. Saya melihatnya sekali lagi. Kali ini dia tersenyum lewat matanya yang berkaca-kaca. Saya tidak tahu apa yang dia maksudkan. Lama-kelamaan tangan saya semakin berat, sakit di kepala saya kembali lagi. Tangan saya sudah tak kuasa menahan beban kamera, sehingga terjatuh ke atas ubin coklat disusul oleh gelas dan obat-obatan saya yang sekarang berserakan. Saya tidak bisa bangun dari kursi tua itu, badan saya terasa kaku dan tidak mau bergerak. Saya mencoba menutup mata, melihat semua kemungkinan yang sudah terjadi selama ini. Kali ini saya benar-benar menutup mata tanpa takut bangun. Melihat isi mimpi-mimpi bersama gadis khayalan itu, di atas kursi goyang tua sambil tersenyum.
“safira, apa kabarmu? Aku sudah lama lho menunggumu”

blog: ciimumutz.blogspot.com

Kamis, 01 Januari 2015

ainun mahya



AINUN MAHYA
nursalim

Pagi ini sang awan tidaklah bersahabat. Tetapi ada tanda-tanda untuk sang awan berwarna lagi. Burung-burung itupun beryanyi menyambut pagi yang dingin ini. Biasan-biasan embun pagi sudah terpecahkan oleh lalu-lalang anak adam. Sedangkan sang mentari itu sudah mulai menyinari cahayanya disudut-sudut perkampungan. Seperti halnya disekitar jalanan simpang uka ini. Pedagang-pedagan yang sudah memenuhi bahu jalanan kota, yang membuat keadaan jalanan menjadi semerautan.  Samar-samar keributan sudah tradisi sejak dulu. Seperti pedagang sayur yang dipojok pasar tersebut, yang selalu menjerit-jerit untuk mengundang para pembeli untuk datang. Becek dan baunya busuk itu sudah makanan sehari-hari para pedagang. Sedangkan aku disini, mengayun sepeda butut peninggalan kakek ku dulu. Aku merasa bangga bisah menaikin sepeda butut ini, dan bisah membelah lautan manusia ini. Bukan, aku bukan mau kepasar atau membeli sesuatu didalam pasar ini. Tetapi aku mau pergi, pergi untuk menuntut ilmu di SMA merah putih. Aku terus mengayun sepeda butut ku ini, dengan harapan sang awan masih bisah bersahabat dengan ku. Jarak rumahku dengan sekolah sekitar 5 km. Sekolah yang tidak layak dikatakan sekolah. Bagaimana mungkin sekolahku ini berdindingkan tepas yang terbuat dari bambu dan susunan papan yang sudah dimakan usia. Tetapi aku senang, aku bangga, dan aku bahagia bisa belajar disana. Karna sosok Pak asrul, guru sejarahku. Berbadan jangkung, berwibawa tinggi, hidung mancung, dan sedikit kearab-arab pan. Sosok pak asrul lah yang aku kagumi di sekolah. Dan bukan aku saja, beberapa temanku juga mengkagumi sosok pak asrul. Aku terhanyut kalau pak asrul berbicara, layaknya ir.soekarno ketika berbicara tentang kemerdekaan, bersemangat tinggi dan berjiwa yang membara-bara.

Apa yang aku takutin dari tadi benaran terjadi, hujan deras disertai angin mampu membuat aku merangkul diriku sendiri karna kedinginan. Aku langsung mengayun sepedaku dengan kekuatan penuh, berharap tidak basah kuyub. Akhirnya aku basah kuyub juga. Setengah dari perjalanan ku menuju pulang, entah kenapa Mataku tidak mau dikedipkan. Sampai-sampai kepalaku memutar searah jarum jam. ‘Bruakkk...’ wajah ku mencium trotoar di pingir jalan. Rasa sakit tidak aku hiraukan, tetapi rasa Malu ini yang membuat aku langsung berdiri dan menahan rasa sakitnya tuh disini. “kamu tidak papa?” Tanya seorang gadis yang sangat cantik. Aku hanya bengong dan berpikir ‘oh, gadis ini yang membuat mataku tadi gk bisah kedip’ gumamku dalam hati. “ouy, kok bengong” sapanya. “oh iya. Kepalaku sedikit pusing ne” jawabku sambil memasang muka sedih. “gk gagar otak kan?” Tanyanya lagi. “ya enggak lah.. masih waras kok”. Kami berdua pun terhanyut dalam keheningan sesaat. aku mulai membuka pembicaraan ini “nama kamu siapa?” Tanya ku mendatar. “oh yah.. namaku ainun mahya”. “aku duluan nya! Udah dijemput ne” gadis itu mengakhirin pembicaraan ini. Aku hanya bisa menatap kepergianya dibawah derasnya hujan. Seketika gadis itu sudah beranjak pergi, aku baru sadar dengan siapa aku berbicara tadi. ehhhm.. aku hanya bisa tersenyum-senyum sendiri dengan kejadian yang barusan aku alami.

30 menit aku berdiri menunggu hujan redah di bawah emperan ruko kosong itu. Dingin dan gelisah sudah mulai menyelimuti tubuhku. Sepertinya kulitku ini tertusuk-tusuk hawa dingin udara luar ruko tersebut, yang membuat aku ingin buru-buru pulang. Dan sepertinya langit pun sudah membukakan sedikit lubang untuk keluarnya cahaya kekuningan pekat itu. Aku bergegas lagi untuk mengayun sepeda butut ku ini, untuk pulang kerumah. Sesampainya aku di Jl. Yos sudarso. Muazim masjid Ar-rahman mengeluari suara terbaiknya untuk memanggil anak adam. Allahu akbar. Allahu akbar... suara indah muazim tersebut mampu menghiasi udara hampa disekitar relung hatiku. Aku terus mengayun sepedaku dengan sangat kencang, berharap masih ada waktu untuk aku mandi. Sesampainya aku dirumah aku langsung bergegas untuk mandi dan menganti pakaianku yang basah. Ku ambil wudhu dan ku shalat di rumah. Selesai shalat rasanya hati, dan pikiran ini menjadi tentra kembali.

Besoknya aku kembali lagi mengayun sepeda, kambali lagi menyelusuri jalanan yang semeraut akan pedagang kaki lima. Belum lagi angkot-angkot yang parkir sembarangan tempat. Membuat tempat ini bukanlah jalanan, melainkan lautan kekacauan. 07.04 aku sampai disekolah. Dengan penampilan yang sangat cool, ku melangkah masuk ke gerbang sekolah, berharap ada perempuan yang melirikku kali ini. Wajar bertahun-tahun aku sekolah, belum ada satupun dari wanita yang melirikku. Bukan, kali ini bukan seorang wanita cantik yang melirik ku, melaikan guru bp yang melirikku. ‘mati aku, aku lupa bawa dasi. kalau aku berurusan dengan guru bp, bisa tamat riwayatku kali ini’ pikirku dalam hati. “kau ne, setiap hari selalu terlambat. Dan mana dasi kau?” Tanya salah satu guru bp. “aduh buk, dasi sa sa saya ketinggalan dirumah” jawabku dengan gugup. “gk sekalian aja kepala kau, kau tinggalin” balas guru bp tersebut dengan mimik yang sadis. “kau bersikan wc itu sekarang, jangan sampek ibu datang nantik belum bersih ya”. Aku hanya melepas tas, dan berlari menuju wc sekolah. Beginilah akhir ceritaku, kalau tidak melengkapi atribut sekolah, berakhir di wc yang super bau.

Bel berdering dengan sangat kuat, itu tandanya aku harus cepat-cepat berlari, menjauh dari sekolah ini. Aku masih sangat kesal dengan kejadian yang menimpahku tadi pagi. ‘udah ganteng-ganteng kok disuruh bersihkan wc, apa kata dunia’ gerutuku sambil menendang-nedang botol aqua. Matahari saat ini benar-benar sangat marah, buktinya ia mengeluari cahaya yang sangat panas yang menusuk-nusuk pori-pori kulit ku ini. Mataku tidak ada batasan untuk melihat keriuhan lalu-lalang kendaraan. Walaupun hari ini begitu panas, tetapi tidak menyurutkan anak adam untuk beraktivitas diluar rumah.
“Hy…kamu yang semalam nabrak trotoar ya?” Tanya sesosok gadis yang gk aku kenali. Aku hanya merasa malu dan senyum saat itu (karna dia tau kalau aku semalam nabrak trotoar), walaupun detak jantungku tak karuan.
“Masih terasa sakit gk?” Tanyanya dengan singkat. Aku hanya bengong, ketika ia berbicara padaku.
“Hello..ada orangnya gk. Aku ainun mahya, masih ingat gk”.tanyanya lagi.
“Oh yaya… aku baru ingat. Aku pikir kamu itu malaikat dari mana tadi”. Jawabku terdengar canggung.
“Sembarangan aja kalo ngomong, aku ne bukan malaikat kali”. Jawabnya yang memperjelas.
“Kamu baru pulang sekolah ya?” tanyanya lagi.
“Iya..” Jawabku santai. Begitulah jurusku keluar. (Sok cool dan cuek. Padahal ngarep.ckckck).
”Kamu darimana?” tanyanya ku.
”Apanya dari mana?” dia malah balik tanya.
”Sampeyan dari mana?” tanya ku memperjelas.
”Oh, bilang dong dari tadi. Aku dari medan” jawabnya yang penuh senyuman.
”Kamu lagi apa dipinggir jalan gini. Gk mau bunuh dirikan?” tanya ku lagi.
”Ehhh...ngomong apa sihh. Aku disini lagi nyari inspirasi kali” jawabnya.
”Udah dapat inspirasinya” tanyaku lagi.
”Nanyak-nanyak aja ya, kayak wartawan!” serunya.
”Ehmm..yaudah. kalo gk boleh nanyak” ucapku yang cuek.
”Hee..begitu aja marah. Aku udah dapat inspirasinya” ucapnya.
”Apa inspirasinya?” tanyaku dengan mimik penasaran.
”lelaki yang mengendarai sepeda tua, dengan pakaian putih abu-abu, senyum manis dan tutur lembut. lalu bertanya seperti wartawan yang sedang meliput. Periang dan lebih banyak bengongnya, yang saat ini ada di sampingku dan berbicara denganku adalah inspirasinya ku  jawabnya sekenanya sambil berdiri dan pergi meninggalkan ku.
”Berarti aku dong” teriak ku memanggil gadis itu yang meninggalkanku beberapa langkah. Dan gadis itu hanya berpaling sebentar dan tersenyum, kemudian aku balas dengan senyuman juga.

Gemuruh panah asmara sudah mulai menancap di hatiku. Kejadian semalam siang tidak mungkin aku lupakan begitu saja. Mungkin aku akan membingkainya di dalam hati kecil ini. Dengan seiring waktu, entah mengapa ada suatu perasaan yang mengganjal di hatiku ini. Suatu perasaan yang sulit di deskripsikan. Suatu perasaan yang tak dapat didefenisi. Suatu perasaan yang sangat sulit dimengerti. Suatu perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tapi, suatu perasaan yang hanya bisa dirasakan oleh hati. Ya, perasaan itu muncul begitu saja. Kali ini aku bimbang, bingung, dan resah.  Bagaimana mungkin aku bisa mencintai seseorang hanya dalam waktu sekejap? Ya Tuhan, ada apa dengan diriku ini?

Hari ini adalah hari libur sekolah, hari dimana kebebasan berpihak pada semua pelajar yang sters. Pagi ini adalah pagi yang paling pas untuk menghirup udara segar nan sejuk. Tepat, pilihanku sangat tepat. Taman kota ini sangat tepat untuk aku menghirup udara segar seraya melepas penat yang ada di dalam pikiran. Sejuk, rimbun, dan lembutnya kicauan burung camar, melengkapin suasana pagi ini. Dari kejauhan pandangan mataku, aku manangkap sosok gadis yang aku kenal. Yah.. gadis itu adalah gadis yang membuat tidur ku tidak nyeyak setiap malamnya. Aku langsung menyampirinya.
”Apakah seorang penulis itu hanya duduk termenung sambil memegang pulpel di tanggannya” tegurku yang memecah keheningan taman.
”Ehh... Kamu kok ada di tempat ini. Kamu bukan ngikutin aku kan..” tanyanya.
“Aku bukan bodyguard kamu kali, kalau kemana-mana aku ikutin” ucapku yang memperjelas.
“Aku fuad” seruku serasa mengulurkan tangan kearah gadis itu.
“Oh, nama kamu toh fuad. Aku pikir kamu tuh gk punya nama” ucapnya yang cuek.
”Emang lagi nulis apa sih, sampek segitu serius nya. Nanti botak lo, kalo serius gitu” ucapku.
”Biarin aja” jawabnya singkat.
”Pagi ini begitu indah dan sejuk, tapi sayangnya ada mahluk pengganggu pagi yang indah ini. Sehingga aku ingin berlari, berlari menjeburkan diri ini kedalam air. Agar aku tidak terkena rayuannya.” ucap gadis itu yang sangat keras.
”Kamu nyindir aku ya. Maaf kalo aku ganggu kamu lagi nulis” seruku.
”Ganggu kali pun...’ becanda. Aku tadi lagi baca puisiku yang baru aku buat, ketika kamu datang” jawabnya.
”Boleh aku duduk di sini”
”Silakan.. ’kamu ne orangnya kuper ya. Kemana-mana sendirian aja?” tanya gadis tersebut.
”Baru kamu loh, yang bilang aku ne kuper” jawabku yang membantah.
”Berarti kamu tidak punya teman yang benar-benar bisa baca kamu. Aku baru kenal kamu aja udah bisa nebak, kamu itu kuper” ucap gadis tersebut.
”Rumah kamu dimana?” tanya ku yang sangat percaya diri.
”Untuk apa kamu nanyak rumahku” tanya balik gadis tersebut.
”Untuk membuktikan, bahwa aku bukanlah orang yang seperti kamu pikirkan”

Sebentar lagi jam delapan, aku harus buru-buru berpakaian yang super cool kali ini. ’Biar dia tau siapa aku’ gumamku dalam hati. Tok.tok.tok... ”ya ada yang saya bisa bantu”. Saut seorang ibu-ibu, yang sepertinya pembantu rumah ini. ”apa benar ne bik, rumahnya ainun mahya”. Tanya ku, ”benar. Tunggu sebentar ya, bibik panggilin dulu. Non, non ada tamu ni”. Panggil bibik tersebut. ”siapa bik”. tanya seseorang yang sepertinya suara ainun. ”gk tau non, katanya mau nyari non”. Jawab bibik tersebut. ”bilang tunggu sebentar bik”. Seru ainun. ”iya non”. ’selang beberapa detik, ainun turun dari atas tangga rumahnya’. ”oh kamu fuad, aku pikir siapa tadi. Ada apa fuad?”. ”mau membuktikan pada kamu, bahwa aku bukanlah orang yang seperti kamu pikirkan semalam”. Jawabku dengan pede. ”aku Cuma bercanda semalam”. Tambah gadis tersebut. ”kamu ada acara gk hari ini”. Tanyaku lagi. ”gk ada”. Jawabnya. ”kamu mau ikut aku”. ajakku. ”kemana”. Tanyanya singkat. ”kemana aja yang bisah membuat kita tertawa”. ”ayok”. Ucapnya yang sepertinya mau.

Hari-hariku selalu cerah menderang setiap paginya. Senyuman-senyuman kecil selalu memerekah belakangan ini. Letupan-letupan besar sudah menyerang jantung ku sejak saat itu. ’apakah aku jatuh cinta padanya?’ tanyaku pada diriku sendiri. Rasa ini beda, rasa yang mungkin tidak aku dapat dari sosok perempuan mana pun. Aku banyak berhadapan dengan wanita manapun, tetapi rasanya biasa saja. Tapi seketika aku berhadapan dengan ainun, rasanya jantung ini berdetak dengan sangat kuat, darah ini naik turun, dan mulut ini tidak bisa berkata-kata.

Sudah 3 tahun aku mengenal ainun dengan begitu baik. Senyumnya, tawanya, raut mukanya itu yang gk pernah hilang dalam pikiranku. Dan sudah 3 tahun ini pula aku menyimpan rasa, rasa yang membuat aku terikat. Batin ini rasanya selalu menjerit-jerit. Entah apa yang membuat mulut ini tidak bisa mengungkapkan semua ini.

(Udara malam, mampu meninggalkan jejak kedinginan. Sedangkan udara yang ku rasakan saat ini, mampu meninggalkan jejak kerinduan. Aku tak tau dengan semua rasa ini?. Dan aku tidak tau dengan alur kisah ini. Pernah aku bercerita pada sang bulan, apa akhir dari kisah ini. Tetapi sang bulan itu menghilang ditelan gelapnya awan hitam. Aku sempat jenuh saat itu. Saat dimana hati ini mau bebas, tetapi mulut ini tidak mau berkata-kata. Emmm.. sepertinya aku ingin menjadi burung-burung itu. Terbang bebas, kemana ia suka, terbang bebas kemana ia akan hinggap.)

Aku mendapat kabar dari widi, temanya ainun. Kata widi, ainun sekarang ada dirumah sakit. ”kenap ainun bisah masuk rumah sakit” tanyaku pada widi. ”aku juga gk tau, emang dari dulu ainun sering sakit-sakitan. tapi dia gk pernah cerita soal penyakit yang ia derita” jawab widi di tengah-tengah kekewatiran ini. Aku langsung lari menuju rumah sakit martapura. Dijalan aku hanya termenung sedih, sesampainya aku dirumah sakit, Ku lihat ibu dan ayahnya ainun sedang menangis di ruang tunggu. Aku langsung menghampiri, ”om, tante. Ainun sakit apa?” tanyaku yang penuh kesedihan. ”ainun terkena kangker darah, udah dari kecil ainun menderita sakit inil” jawab mamah ainun yang menangis. Tidak butuh waktu yang lama, aku juga ikut menangis menatap tubuh ainun yang di beri alat pembantu pernapasan.

Semua kisahku dengan ainun mahya ku tulis dalam relung hati ini. Mulai dari pertama bertemu, sampai ketika ainun tergeletak sakit di RS. Aku tidak mau kisah ini berakhir dalam tong sampah, yang aku mau kisah ini berakhir dengan senyuman dan bingkaian. Tetapi itu semua hanya angan-angan kosong, yang ku tau saat ini adalah ainun tidaklah akan lama lagi bisa menghirup udara ini. Karna ainun sudah diponis oleh dokter, akan hidup beberapa hari lagi. Tetapi aku yakin, dokter bukanlah Tuhan yang tau umur seseorang. Aku terus datang setiap harinya, dan membisikan ditelinga kirinya, ’nantik kalau kamu bangun, aku akan mengajak kamu kesuatu tempat yang sangat indah. Yaitu kebulan, kamu maukan. Ayo kamu bangun’ air mata ini tak mampu lagi ku bendung, karna rasa sayang ini terlalu besar padanya. Tetapi tuhan berkehendak lain, 17 mei 2010. Ainun pulang kepada sang pencipta. Aku tak percaya ini semua bisah terjadi. Aku sangat menyesal, karna disisah hidupnya aku tidak pernah membuat di bahagia. Dan yang membuat aku sangat terpukul adalah selama ini aku tidak pernah mengetahui penyakit yang diderita ainun. ”fuad, ini buku deary ainun. Dia berpesan, ’kalau ainun gk ada di dunia ini lagi, nantik buku diary ini mamah kasih fuad ya! Mamah janji yah.” seru mamah ainun yang memberi buku diary dan terlihat jelas mamah ainun sangat terpukul akan kepergian anak tunggalnya.

Perlahan demi perlahan aku mulai membuka lembaran demi lembaran buku diary ainun. Tepat pada lembaran ke-7.
2 febuary 2010.
Malam diary, hari ini tak begitu baik untukku. Karna aku sangat sedih dengan penyakit yang aku derita selama ini. Tetapi, kata mamah aku harus tetap senyum, dan gk boleh nangis apalagi ngeluh. Dan kata mamah lagi, Allah itukan dekat kita, jadi kenapa kita harus sedih, yakan diary.

Tetapi setelah kubuka lembar terakhir didalam diary tersebut, tertuliskan kata.
Malam Diary.
“Aku bingung, aku merasakan sesuatu yang sangat berbeda saat berhadapan dengan orang itu, fuad. Tanganku tiba-tiba gemetar, jantungku pun berdegup dengan sangat kencang. Apa ini yang namanya jatuh cinta? Sebelumnya ini tak pernah aku rasakan, aku sering bertemu dengan lawan pria, aku suka pada mereka, tapi hanya sebatas teman. Tapi kenapa saat pertama kali aku ketemu dia rasanya lain. Aku tidak suka perasaan ini, aku tidak mau jatuh hati padanya. Menurutmu apa yang harus ku lakukan?. Tetapi aku tidak mau rasa ini menjadi terlalu dalam. Sebab, aku tau siapa aku ini. Hanya perempuan yang sakit-sakitan, dan tak akan lama lagi hidup. Udah dulu ya Diary,udah malam”. Aku tak tahan lagi membaca satu persatu kata-kata ini. Kata-kata yang membuat aku semakin tidak bisah melupakannya.

Hingga 1 tahun berlalu, aku tidak pernah membuka hatiku sedikitpun untuk perempuan lain. Aku tau ini hanya membuang-buang waktu saja. Hingga aku bertemu dengan adik kelas di sekolah dulu, seorang perempuan yang tidak pernah aku tuliskan namanya di dalam hati ini, namun Dia sudah tertulis di takdirku. Youland Seorang wanita yang sangat baik yang rela menunggu hatiku terbuka untuknya, bukan hanya 1 atau 2 tahun tapi sudah 5 tahun. Seorang menyukaiku sewaktu kami masih Sekolah, seseorang yang diam-diam melihatku melewati kelasnya di balik jendela, dan dia tidak pernah berani mengungkapkannya, sampai saatnya kini dia berani mengutarakan perasaannya kepadaku lewat twitter. Dia yang telah membuat hidupku semakin sempurna, hingga saat ini.

’Awan hitam dilambangkan sebagai kesedihan, sedangkan mentari itu dilambangkan sebagai kecerian. Tetapi apabila awan hitam dan mentari itu digabungkan, pasti akan memunculkan yang namanya pelangi. Dan aku percaya  bahwa pelangi itu sendiri pasti bisah menghapuskan inggatanku akan masa lalu’.

Blog: ciimumutz.blogspot.com