AINUN
MAHYA
nursalim
Pagi
ini sang awan tidaklah bersahabat. Tetapi ada tanda-tanda untuk sang awan
berwarna lagi. Burung-burung itupun beryanyi menyambut pagi yang dingin ini.
Biasan-biasan embun pagi sudah terpecahkan oleh lalu-lalang anak adam.
Sedangkan sang mentari itu sudah mulai menyinari cahayanya disudut-sudut
perkampungan. Seperti halnya disekitar jalanan simpang uka ini.
Pedagang-pedagan yang sudah memenuhi bahu jalanan kota, yang membuat keadaan
jalanan menjadi semerautan. Samar-samar
keributan sudah tradisi sejak dulu. Seperti pedagang sayur yang dipojok pasar
tersebut, yang selalu menjerit-jerit untuk mengundang para pembeli untuk
datang. Becek dan baunya busuk itu sudah makanan sehari-hari para pedagang.
Sedangkan aku disini, mengayun sepeda butut peninggalan kakek ku dulu. Aku
merasa bangga bisah menaikin sepeda butut ini, dan bisah membelah lautan
manusia ini. Bukan, aku bukan mau kepasar atau membeli sesuatu didalam pasar
ini. Tetapi aku mau pergi, pergi untuk menuntut ilmu di SMA merah putih. Aku
terus mengayun sepeda butut ku ini, dengan harapan sang awan masih bisah
bersahabat dengan ku. Jarak rumahku dengan sekolah sekitar 5 km. Sekolah yang
tidak layak dikatakan sekolah. Bagaimana mungkin sekolahku ini berdindingkan
tepas yang terbuat dari bambu dan susunan papan yang sudah dimakan usia. Tetapi
aku senang, aku bangga, dan aku bahagia bisa belajar disana. Karna sosok Pak
asrul, guru sejarahku. Berbadan jangkung, berwibawa tinggi, hidung mancung, dan
sedikit kearab-arab pan. Sosok pak asrul lah yang aku kagumi di sekolah. Dan
bukan aku saja, beberapa temanku juga mengkagumi sosok pak asrul. Aku terhanyut
kalau pak asrul berbicara, layaknya ir.soekarno ketika berbicara tentang
kemerdekaan, bersemangat tinggi dan berjiwa yang membara-bara.
Apa
yang aku takutin dari tadi benaran terjadi, hujan deras disertai angin mampu
membuat aku merangkul diriku sendiri karna kedinginan. Aku langsung mengayun
sepedaku dengan kekuatan penuh, berharap tidak basah kuyub. Akhirnya aku basah
kuyub juga. Setengah dari perjalanan ku menuju pulang, entah kenapa Mataku
tidak mau dikedipkan. Sampai-sampai kepalaku memutar searah jarum jam.
‘Bruakkk...’ wajah ku mencium trotoar di pingir jalan. Rasa sakit tidak aku
hiraukan, tetapi rasa Malu ini yang membuat aku langsung berdiri dan menahan
rasa sakitnya tuh disini. “kamu tidak papa?” Tanya seorang gadis yang sangat
cantik. Aku hanya bengong dan berpikir ‘oh, gadis ini yang membuat mataku tadi
gk bisah kedip’ gumamku dalam hati. “ouy, kok bengong” sapanya. “oh iya.
Kepalaku sedikit pusing ne” jawabku sambil memasang muka sedih. “gk gagar otak
kan?” Tanyanya lagi. “ya enggak lah.. masih waras kok”. Kami berdua pun
terhanyut dalam keheningan sesaat. aku mulai membuka pembicaraan ini “nama kamu
siapa?” Tanya ku mendatar. “oh yah.. namaku ainun mahya”. “aku duluan nya! Udah
dijemput ne” gadis itu mengakhirin pembicaraan ini. Aku hanya bisa menatap
kepergianya dibawah derasnya hujan. Seketika gadis itu sudah beranjak pergi,
aku baru sadar dengan siapa aku berbicara tadi. ehhhm.. aku hanya bisa tersenyum-senyum
sendiri dengan kejadian yang barusan aku alami.
30
menit aku berdiri menunggu hujan redah di bawah emperan ruko kosong itu. Dingin
dan gelisah sudah mulai menyelimuti tubuhku. Sepertinya kulitku ini
tertusuk-tusuk hawa dingin udara luar ruko tersebut, yang membuat aku ingin
buru-buru pulang. Dan sepertinya langit pun sudah membukakan sedikit lubang
untuk keluarnya cahaya kekuningan pekat itu. Aku bergegas lagi untuk mengayun
sepeda butut ku ini, untuk pulang kerumah. Sesampainya aku di Jl. Yos sudarso.
Muazim masjid Ar-rahman mengeluari suara terbaiknya untuk memanggil anak adam.
Allahu akbar. Allahu akbar... suara indah muazim tersebut mampu menghiasi udara
hampa disekitar relung hatiku. Aku terus mengayun sepedaku dengan sangat
kencang, berharap masih ada waktu untuk aku mandi. Sesampainya aku dirumah aku
langsung bergegas untuk mandi dan menganti pakaianku yang basah. Ku ambil wudhu
dan ku shalat di rumah. Selesai shalat rasanya hati, dan pikiran ini menjadi
tentra kembali.
Besoknya
aku kembali lagi mengayun sepeda, kambali lagi menyelusuri jalanan yang
semeraut akan pedagang kaki lima. Belum lagi angkot-angkot yang parkir
sembarangan tempat. Membuat tempat ini bukanlah jalanan, melainkan lautan
kekacauan. 07.04 aku sampai disekolah. Dengan penampilan yang sangat cool,
ku melangkah masuk ke gerbang sekolah, berharap ada perempuan yang melirikku
kali ini. Wajar bertahun-tahun aku sekolah, belum ada satupun dari wanita yang
melirikku. Bukan, kali ini bukan seorang wanita cantik yang melirik ku,
melaikan guru bp yang melirikku. ‘mati aku, aku lupa bawa dasi. kalau aku
berurusan dengan guru bp, bisa tamat riwayatku kali ini’ pikirku dalam hati.
“kau ne, setiap hari selalu terlambat. Dan mana dasi kau?” Tanya salah satu
guru bp. “aduh buk, dasi sa sa saya ketinggalan dirumah” jawabku dengan gugup.
“gk sekalian aja kepala kau, kau tinggalin” balas guru bp tersebut dengan mimik
yang sadis. “kau bersikan wc itu sekarang, jangan sampek ibu datang nantik
belum bersih ya”. Aku hanya melepas tas, dan berlari menuju wc sekolah.
Beginilah akhir ceritaku, kalau tidak melengkapi atribut sekolah, berakhir di
wc yang super bau.
Bel
berdering dengan sangat kuat, itu tandanya aku harus cepat-cepat berlari,
menjauh dari sekolah ini. Aku masih sangat kesal dengan kejadian yang
menimpahku tadi pagi. ‘udah ganteng-ganteng kok disuruh bersihkan wc, apa kata
dunia’ gerutuku sambil menendang-nedang botol aqua. Matahari saat ini
benar-benar sangat marah, buktinya ia mengeluari cahaya yang sangat panas yang menusuk-nusuk
pori-pori kulit ku ini. Mataku tidak ada batasan untuk melihat keriuhan
lalu-lalang kendaraan. Walaupun hari ini begitu panas, tetapi tidak menyurutkan
anak adam untuk beraktivitas diluar rumah.
“Hy…kamu
yang semalam nabrak trotoar ya?” Tanya sesosok gadis yang gk aku kenali. Aku hanya merasa malu dan senyum saat itu (karna
dia tau kalau aku semalam nabrak trotoar), walaupun detak jantungku tak
karuan.
“Masih
terasa sakit gk?” Tanyanya dengan singkat. Aku hanya bengong, ketika ia
berbicara padaku.
“Hello..ada
orangnya gk. Aku ainun mahya, masih ingat gk”.tanyanya lagi.
“Oh
yaya… aku baru ingat. Aku pikir kamu itu malaikat dari mana tadi”. Jawabku
terdengar canggung.
“Sembarangan
aja kalo ngomong, aku ne bukan malaikat kali”. Jawabnya yang memperjelas.
“Kamu
baru pulang sekolah ya?” tanyanya lagi.
“Iya..” Jawabku santai. Begitulah jurusku keluar. (Sok cool dan cuek. Padahal ngarep.ckckck).
”Kamu darimana?” tanyanya ku.
”Apanya dari mana?” dia malah balik tanya.
”Sampeyan dari mana?” tanya ku memperjelas.
”Oh, bilang dong dari tadi. Aku dari medan”
jawabnya yang penuh senyuman.
”Kamu lagi apa dipinggir jalan gini. Gk mau
bunuh dirikan?” tanya ku lagi.
”Ehhh...ngomong apa sihh. Aku disini lagi
nyari inspirasi kali” jawabnya.
”Udah dapat inspirasinya” tanyaku lagi.
”Nanyak-nanyak aja ya, kayak wartawan!”
serunya.
”Ehmm..yaudah. kalo gk boleh nanyak” ucapku
yang cuek.
”Hee..begitu aja marah. Aku udah dapat
inspirasinya” ucapnya.
”Apa inspirasinya?” tanyaku dengan mimik
penasaran.
”lelaki yang mengendarai sepeda tua, dengan
pakaian putih abu-abu, senyum manis
dan tutur lembut. lalu bertanya seperti wartawan yang sedang
meliput. Periang dan lebih banyak bengongnya, yang saat ini ada di sampingku dan berbicara denganku
adalah inspirasinya ku” jawabnya sekenanya sambil berdiri dan pergi
meninggalkan ku.
”Berarti aku dong” teriak ku memanggil gadis
itu yang meninggalkanku beberapa langkah. Dan gadis itu hanya berpaling
sebentar dan tersenyum, kemudian aku balas dengan senyuman juga.
Gemuruh panah asmara sudah mulai menancap di
hatiku. Kejadian semalam siang tidak mungkin aku lupakan begitu saja. Mungkin
aku akan membingkainya di dalam hati kecil ini. Dengan seiring
waktu, entah mengapa ada suatu perasaan yang mengganjal di hatiku ini. Suatu
perasaan yang sulit di deskripsikan. Suatu perasaan yang tak dapat didefenisi.
Suatu perasaan yang sangat sulit dimengerti. Suatu perasaan yang tak bisa
diungkapkan dengan kata-kata. Tapi, suatu perasaan yang hanya bisa dirasakan
oleh hati. Ya, perasaan itu muncul begitu saja. Kali ini aku bimbang, bingung,
dan resah. Bagaimana mungkin aku bisa
mencintai seseorang hanya dalam waktu sekejap? Ya Tuhan, ada apa dengan diriku
ini?
Hari ini adalah hari libur sekolah, hari dimana kebebasan berpihak pada semua
pelajar yang sters. Pagi ini adalah pagi yang paling pas untuk menghirup udara
segar nan sejuk. Tepat, pilihanku sangat tepat. Taman kota ini sangat tepat
untuk aku menghirup udara segar seraya melepas penat yang ada di dalam pikiran.
Sejuk, rimbun, dan lembutnya kicauan burung camar, melengkapin suasana pagi
ini. Dari kejauhan pandangan mataku, aku manangkap sosok gadis yang aku kenal.
Yah.. gadis itu adalah gadis yang membuat tidur ku tidak nyeyak setiap
malamnya. Aku langsung menyampirinya.
”Apakah seorang
penulis itu hanya duduk termenung sambil memegang pulpel di tanggannya” tegurku
yang memecah keheningan taman.
”Ehh... Kamu
kok ada di tempat ini. Kamu bukan ngikutin aku kan..” tanyanya.
“Aku bukan bodyguard kamu kali, kalau kemana-mana aku ikutin”
ucapku yang memperjelas.
“Aku fuad” seruku serasa mengulurkan tangan kearah gadis itu.
“Oh, nama kamu toh fuad. Aku pikir kamu tuh gk punya nama” ucapnya
yang cuek.
”Emang lagi
nulis apa sih, sampek segitu serius nya. Nanti botak lo, kalo serius gitu” ucapku.
”Biarin aja”
jawabnya singkat.
”Pagi ini
begitu indah dan sejuk, tapi sayangnya ada mahluk pengganggu pagi yang indah
ini. Sehingga aku ingin berlari, berlari menjeburkan diri ini kedalam air. Agar
aku tidak terkena rayuannya.” ucap gadis itu yang sangat keras.
”Kamu nyindir
aku ya. Maaf kalo aku ganggu kamu lagi nulis” seruku.
”Ganggu kali
pun...’ becanda. Aku tadi lagi baca puisiku yang baru aku buat, ketika kamu
datang” jawabnya.
”Boleh aku
duduk di sini”
”Silakan.. ’kamu
ne orangnya kuper ya. Kemana-mana sendirian aja?” tanya gadis tersebut.
”Baru kamu loh,
yang bilang aku ne kuper” jawabku yang membantah.
”Berarti kamu
tidak punya teman yang benar-benar bisa baca kamu. Aku baru kenal kamu aja udah
bisa nebak, kamu itu kuper” ucap gadis tersebut.
”Rumah kamu
dimana?” tanya ku yang sangat percaya diri.
”Untuk apa kamu
nanyak rumahku” tanya balik gadis tersebut.
”Untuk
membuktikan, bahwa aku bukanlah orang yang seperti kamu pikirkan”
Sebentar lagi jam delapan, aku harus buru-buru berpakaian yang super cool
kali ini. ’Biar dia tau siapa aku’ gumamku dalam hati. Tok.tok.tok... ”ya
ada yang saya bisa bantu”. Saut seorang ibu-ibu, yang sepertinya pembantu rumah
ini. ”apa benar ne bik, rumahnya ainun mahya”. Tanya ku, ”benar. Tunggu
sebentar ya, bibik panggilin dulu. Non, non ada tamu ni”. Panggil bibik
tersebut. ”siapa bik”. tanya seseorang yang sepertinya suara ainun. ”gk tau
non, katanya mau nyari non”. Jawab bibik tersebut. ”bilang tunggu sebentar
bik”. Seru ainun. ”iya non”. ’selang beberapa detik, ainun turun dari atas
tangga rumahnya’. ”oh kamu fuad, aku pikir siapa tadi. Ada apa fuad?”. ”mau
membuktikan pada kamu, bahwa aku bukanlah orang yang seperti kamu pikirkan
semalam”. Jawabku dengan pede. ”aku Cuma bercanda semalam”. Tambah gadis
tersebut. ”kamu ada acara gk hari ini”. Tanyaku lagi. ”gk ada”. Jawabnya. ”kamu
mau ikut aku”. ajakku. ”kemana”. Tanyanya singkat. ”kemana aja yang bisah
membuat kita tertawa”. ”ayok”. Ucapnya yang sepertinya mau.
Hari-hariku selalu cerah menderang setiap paginya. Senyuman-senyuman kecil
selalu memerekah belakangan ini. Letupan-letupan besar sudah menyerang jantung
ku sejak saat itu. ’apakah aku jatuh cinta padanya?’ tanyaku pada diriku
sendiri. Rasa ini beda, rasa yang mungkin tidak aku dapat dari sosok perempuan
mana pun. Aku banyak berhadapan dengan wanita manapun, tetapi rasanya biasa saja.
Tapi seketika aku berhadapan dengan ainun, rasanya jantung ini berdetak dengan
sangat kuat, darah ini naik turun, dan mulut ini tidak bisa berkata-kata.
Sudah 3 tahun aku mengenal ainun dengan begitu baik. Senyumnya, tawanya,
raut mukanya itu yang gk pernah hilang dalam pikiranku. Dan sudah 3 tahun ini
pula aku menyimpan rasa, rasa yang membuat aku terikat. Batin ini rasanya
selalu menjerit-jerit. Entah apa yang membuat mulut ini tidak bisa
mengungkapkan semua ini.
(Udara malam, mampu meninggalkan jejak kedinginan. Sedangkan udara yang ku
rasakan saat ini, mampu meninggalkan jejak kerinduan. Aku tak tau dengan semua
rasa ini?. Dan aku tidak tau dengan alur kisah ini. Pernah aku bercerita pada
sang bulan, apa akhir dari kisah ini. Tetapi sang bulan itu menghilang ditelan
gelapnya awan hitam. Aku sempat jenuh saat itu. Saat dimana hati ini mau bebas,
tetapi mulut ini tidak mau berkata-kata. Emmm.. sepertinya aku ingin menjadi
burung-burung itu. Terbang bebas, kemana ia suka, terbang bebas kemana ia akan
hinggap.)
Aku mendapat kabar dari widi, temanya ainun. Kata widi, ainun sekarang ada
dirumah sakit. ”kenap ainun bisah masuk rumah sakit” tanyaku pada widi. ”aku
juga gk tau, emang dari dulu ainun sering sakit-sakitan. tapi dia gk pernah
cerita soal penyakit yang ia derita” jawab widi di tengah-tengah kekewatiran
ini. Aku langsung lari menuju rumah sakit martapura. Dijalan aku hanya
termenung sedih, sesampainya aku dirumah sakit, Ku lihat ibu dan ayahnya ainun
sedang menangis di ruang tunggu. Aku langsung menghampiri, ”om, tante. Ainun
sakit apa?” tanyaku yang penuh kesedihan. ”ainun terkena kangker darah, udah
dari kecil ainun menderita sakit inil” jawab mamah ainun yang menangis. Tidak
butuh waktu yang lama, aku juga ikut menangis menatap tubuh ainun yang di beri
alat pembantu pernapasan.
Semua kisahku dengan ainun mahya ku tulis dalam relung hati ini. Mulai dari
pertama bertemu, sampai ketika ainun tergeletak sakit di RS. Aku tidak mau
kisah ini berakhir dalam tong sampah, yang aku mau kisah ini berakhir dengan
senyuman dan bingkaian. Tetapi itu semua hanya angan-angan kosong, yang ku tau
saat ini adalah ainun tidaklah akan lama lagi bisa menghirup udara ini. Karna
ainun sudah diponis oleh dokter, akan hidup beberapa hari lagi. Tetapi aku
yakin, dokter bukanlah Tuhan yang tau umur seseorang. Aku terus datang setiap
harinya, dan membisikan ditelinga kirinya, ’nantik kalau kamu bangun, aku akan
mengajak kamu kesuatu tempat yang sangat indah. Yaitu kebulan, kamu maukan. Ayo
kamu bangun’ air mata ini tak mampu lagi ku bendung, karna rasa sayang ini
terlalu besar padanya. Tetapi tuhan berkehendak lain, 17 mei 2010. Ainun pulang
kepada sang pencipta. Aku tak percaya ini semua bisah terjadi. Aku sangat
menyesal, karna disisah hidupnya aku tidak pernah membuat di bahagia. Dan yang
membuat aku sangat terpukul adalah selama ini aku tidak pernah mengetahui
penyakit yang diderita ainun. ”fuad, ini buku deary ainun. Dia berpesan, ’kalau
ainun gk ada di dunia ini lagi, nantik buku diary ini mamah kasih fuad ya!
Mamah janji yah.” seru mamah ainun yang memberi buku diary dan terlihat jelas
mamah ainun sangat terpukul akan kepergian anak tunggalnya.
Perlahan demi perlahan aku mulai membuka lembaran demi lembaran buku diary
ainun. Tepat pada lembaran ke-7.
2 febuary 2010.
Malam diary, hari ini tak begitu baik untukku. Karna aku sangat sedih
dengan penyakit yang aku derita selama ini. Tetapi, kata mamah aku harus tetap
senyum, dan gk boleh nangis apalagi ngeluh. Dan kata mamah lagi, Allah itukan
dekat kita, jadi kenapa kita harus sedih, yakan diary.
Tetapi setelah kubuka lembar terakhir didalam diary tersebut, tertuliskan
kata.
Malam Diary.
“Aku bingung,
aku merasakan sesuatu yang sangat berbeda saat berhadapan dengan orang itu, fuad.
Tanganku tiba-tiba gemetar, jantungku pun berdegup dengan sangat kencang. Apa
ini yang namanya jatuh cinta? Sebelumnya ini tak pernah aku rasakan, aku sering
bertemu dengan lawan pria, aku suka pada mereka, tapi hanya sebatas teman. Tapi
kenapa saat pertama kali aku ketemu dia rasanya lain. Aku tidak suka perasaan
ini, aku tidak mau jatuh hati padanya. Menurutmu apa yang harus ku lakukan?.
Tetapi aku tidak mau rasa ini menjadi terlalu dalam. Sebab, aku tau siapa aku
ini. Hanya perempuan yang sakit-sakitan, dan tak akan lama lagi hidup. Udah
dulu ya Diary,udah malam”. Aku tak tahan lagi membaca satu persatu kata-kata
ini. Kata-kata yang membuat aku semakin tidak bisah melupakannya.
Hingga 1 tahun
berlalu, aku tidak pernah membuka hatiku sedikitpun untuk perempuan lain. Aku
tau ini hanya membuang-buang waktu saja. Hingga aku bertemu dengan adik kelas
di sekolah dulu, seorang perempuan yang tidak pernah aku tuliskan namanya di
dalam hati ini, namun Dia sudah tertulis di takdirku. Youland Seorang wanita
yang sangat baik yang rela menunggu hatiku terbuka untuknya, bukan hanya 1 atau
2 tahun tapi sudah 5 tahun. Seorang menyukaiku sewaktu kami masih Sekolah, seseorang
yang diam-diam melihatku melewati kelasnya di balik jendela, dan dia tidak
pernah berani mengungkapkannya, sampai saatnya kini dia berani mengutarakan
perasaannya kepadaku lewat twitter. Dia yang telah membuat hidupku
semakin sempurna, hingga saat ini.
’Awan hitam dilambangkan sebagai kesedihan, sedangkan mentari itu
dilambangkan sebagai kecerian. Tetapi apabila awan hitam dan mentari itu
digabungkan, pasti akan memunculkan yang namanya pelangi. Dan aku percaya bahwa pelangi itu sendiri pasti bisah menghapuskan
inggatanku akan masa lalu’.
Blog: ciimumutz.blogspot.com