Kamis, 01 Januari 2015

ainun mahya



AINUN MAHYA
nursalim

Pagi ini sang awan tidaklah bersahabat. Tetapi ada tanda-tanda untuk sang awan berwarna lagi. Burung-burung itupun beryanyi menyambut pagi yang dingin ini. Biasan-biasan embun pagi sudah terpecahkan oleh lalu-lalang anak adam. Sedangkan sang mentari itu sudah mulai menyinari cahayanya disudut-sudut perkampungan. Seperti halnya disekitar jalanan simpang uka ini. Pedagang-pedagan yang sudah memenuhi bahu jalanan kota, yang membuat keadaan jalanan menjadi semerautan.  Samar-samar keributan sudah tradisi sejak dulu. Seperti pedagang sayur yang dipojok pasar tersebut, yang selalu menjerit-jerit untuk mengundang para pembeli untuk datang. Becek dan baunya busuk itu sudah makanan sehari-hari para pedagang. Sedangkan aku disini, mengayun sepeda butut peninggalan kakek ku dulu. Aku merasa bangga bisah menaikin sepeda butut ini, dan bisah membelah lautan manusia ini. Bukan, aku bukan mau kepasar atau membeli sesuatu didalam pasar ini. Tetapi aku mau pergi, pergi untuk menuntut ilmu di SMA merah putih. Aku terus mengayun sepeda butut ku ini, dengan harapan sang awan masih bisah bersahabat dengan ku. Jarak rumahku dengan sekolah sekitar 5 km. Sekolah yang tidak layak dikatakan sekolah. Bagaimana mungkin sekolahku ini berdindingkan tepas yang terbuat dari bambu dan susunan papan yang sudah dimakan usia. Tetapi aku senang, aku bangga, dan aku bahagia bisa belajar disana. Karna sosok Pak asrul, guru sejarahku. Berbadan jangkung, berwibawa tinggi, hidung mancung, dan sedikit kearab-arab pan. Sosok pak asrul lah yang aku kagumi di sekolah. Dan bukan aku saja, beberapa temanku juga mengkagumi sosok pak asrul. Aku terhanyut kalau pak asrul berbicara, layaknya ir.soekarno ketika berbicara tentang kemerdekaan, bersemangat tinggi dan berjiwa yang membara-bara.

Apa yang aku takutin dari tadi benaran terjadi, hujan deras disertai angin mampu membuat aku merangkul diriku sendiri karna kedinginan. Aku langsung mengayun sepedaku dengan kekuatan penuh, berharap tidak basah kuyub. Akhirnya aku basah kuyub juga. Setengah dari perjalanan ku menuju pulang, entah kenapa Mataku tidak mau dikedipkan. Sampai-sampai kepalaku memutar searah jarum jam. ‘Bruakkk...’ wajah ku mencium trotoar di pingir jalan. Rasa sakit tidak aku hiraukan, tetapi rasa Malu ini yang membuat aku langsung berdiri dan menahan rasa sakitnya tuh disini. “kamu tidak papa?” Tanya seorang gadis yang sangat cantik. Aku hanya bengong dan berpikir ‘oh, gadis ini yang membuat mataku tadi gk bisah kedip’ gumamku dalam hati. “ouy, kok bengong” sapanya. “oh iya. Kepalaku sedikit pusing ne” jawabku sambil memasang muka sedih. “gk gagar otak kan?” Tanyanya lagi. “ya enggak lah.. masih waras kok”. Kami berdua pun terhanyut dalam keheningan sesaat. aku mulai membuka pembicaraan ini “nama kamu siapa?” Tanya ku mendatar. “oh yah.. namaku ainun mahya”. “aku duluan nya! Udah dijemput ne” gadis itu mengakhirin pembicaraan ini. Aku hanya bisa menatap kepergianya dibawah derasnya hujan. Seketika gadis itu sudah beranjak pergi, aku baru sadar dengan siapa aku berbicara tadi. ehhhm.. aku hanya bisa tersenyum-senyum sendiri dengan kejadian yang barusan aku alami.

30 menit aku berdiri menunggu hujan redah di bawah emperan ruko kosong itu. Dingin dan gelisah sudah mulai menyelimuti tubuhku. Sepertinya kulitku ini tertusuk-tusuk hawa dingin udara luar ruko tersebut, yang membuat aku ingin buru-buru pulang. Dan sepertinya langit pun sudah membukakan sedikit lubang untuk keluarnya cahaya kekuningan pekat itu. Aku bergegas lagi untuk mengayun sepeda butut ku ini, untuk pulang kerumah. Sesampainya aku di Jl. Yos sudarso. Muazim masjid Ar-rahman mengeluari suara terbaiknya untuk memanggil anak adam. Allahu akbar. Allahu akbar... suara indah muazim tersebut mampu menghiasi udara hampa disekitar relung hatiku. Aku terus mengayun sepedaku dengan sangat kencang, berharap masih ada waktu untuk aku mandi. Sesampainya aku dirumah aku langsung bergegas untuk mandi dan menganti pakaianku yang basah. Ku ambil wudhu dan ku shalat di rumah. Selesai shalat rasanya hati, dan pikiran ini menjadi tentra kembali.

Besoknya aku kembali lagi mengayun sepeda, kambali lagi menyelusuri jalanan yang semeraut akan pedagang kaki lima. Belum lagi angkot-angkot yang parkir sembarangan tempat. Membuat tempat ini bukanlah jalanan, melainkan lautan kekacauan. 07.04 aku sampai disekolah. Dengan penampilan yang sangat cool, ku melangkah masuk ke gerbang sekolah, berharap ada perempuan yang melirikku kali ini. Wajar bertahun-tahun aku sekolah, belum ada satupun dari wanita yang melirikku. Bukan, kali ini bukan seorang wanita cantik yang melirik ku, melaikan guru bp yang melirikku. ‘mati aku, aku lupa bawa dasi. kalau aku berurusan dengan guru bp, bisa tamat riwayatku kali ini’ pikirku dalam hati. “kau ne, setiap hari selalu terlambat. Dan mana dasi kau?” Tanya salah satu guru bp. “aduh buk, dasi sa sa saya ketinggalan dirumah” jawabku dengan gugup. “gk sekalian aja kepala kau, kau tinggalin” balas guru bp tersebut dengan mimik yang sadis. “kau bersikan wc itu sekarang, jangan sampek ibu datang nantik belum bersih ya”. Aku hanya melepas tas, dan berlari menuju wc sekolah. Beginilah akhir ceritaku, kalau tidak melengkapi atribut sekolah, berakhir di wc yang super bau.

Bel berdering dengan sangat kuat, itu tandanya aku harus cepat-cepat berlari, menjauh dari sekolah ini. Aku masih sangat kesal dengan kejadian yang menimpahku tadi pagi. ‘udah ganteng-ganteng kok disuruh bersihkan wc, apa kata dunia’ gerutuku sambil menendang-nedang botol aqua. Matahari saat ini benar-benar sangat marah, buktinya ia mengeluari cahaya yang sangat panas yang menusuk-nusuk pori-pori kulit ku ini. Mataku tidak ada batasan untuk melihat keriuhan lalu-lalang kendaraan. Walaupun hari ini begitu panas, tetapi tidak menyurutkan anak adam untuk beraktivitas diluar rumah.
“Hy…kamu yang semalam nabrak trotoar ya?” Tanya sesosok gadis yang gk aku kenali. Aku hanya merasa malu dan senyum saat itu (karna dia tau kalau aku semalam nabrak trotoar), walaupun detak jantungku tak karuan.
“Masih terasa sakit gk?” Tanyanya dengan singkat. Aku hanya bengong, ketika ia berbicara padaku.
“Hello..ada orangnya gk. Aku ainun mahya, masih ingat gk”.tanyanya lagi.
“Oh yaya… aku baru ingat. Aku pikir kamu itu malaikat dari mana tadi”. Jawabku terdengar canggung.
“Sembarangan aja kalo ngomong, aku ne bukan malaikat kali”. Jawabnya yang memperjelas.
“Kamu baru pulang sekolah ya?” tanyanya lagi.
“Iya..” Jawabku santai. Begitulah jurusku keluar. (Sok cool dan cuek. Padahal ngarep.ckckck).
”Kamu darimana?” tanyanya ku.
”Apanya dari mana?” dia malah balik tanya.
”Sampeyan dari mana?” tanya ku memperjelas.
”Oh, bilang dong dari tadi. Aku dari medan” jawabnya yang penuh senyuman.
”Kamu lagi apa dipinggir jalan gini. Gk mau bunuh dirikan?” tanya ku lagi.
”Ehhh...ngomong apa sihh. Aku disini lagi nyari inspirasi kali” jawabnya.
”Udah dapat inspirasinya” tanyaku lagi.
”Nanyak-nanyak aja ya, kayak wartawan!” serunya.
”Ehmm..yaudah. kalo gk boleh nanyak” ucapku yang cuek.
”Hee..begitu aja marah. Aku udah dapat inspirasinya” ucapnya.
”Apa inspirasinya?” tanyaku dengan mimik penasaran.
”lelaki yang mengendarai sepeda tua, dengan pakaian putih abu-abu, senyum manis dan tutur lembut. lalu bertanya seperti wartawan yang sedang meliput. Periang dan lebih banyak bengongnya, yang saat ini ada di sampingku dan berbicara denganku adalah inspirasinya ku  jawabnya sekenanya sambil berdiri dan pergi meninggalkan ku.
”Berarti aku dong” teriak ku memanggil gadis itu yang meninggalkanku beberapa langkah. Dan gadis itu hanya berpaling sebentar dan tersenyum, kemudian aku balas dengan senyuman juga.

Gemuruh panah asmara sudah mulai menancap di hatiku. Kejadian semalam siang tidak mungkin aku lupakan begitu saja. Mungkin aku akan membingkainya di dalam hati kecil ini. Dengan seiring waktu, entah mengapa ada suatu perasaan yang mengganjal di hatiku ini. Suatu perasaan yang sulit di deskripsikan. Suatu perasaan yang tak dapat didefenisi. Suatu perasaan yang sangat sulit dimengerti. Suatu perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tapi, suatu perasaan yang hanya bisa dirasakan oleh hati. Ya, perasaan itu muncul begitu saja. Kali ini aku bimbang, bingung, dan resah.  Bagaimana mungkin aku bisa mencintai seseorang hanya dalam waktu sekejap? Ya Tuhan, ada apa dengan diriku ini?

Hari ini adalah hari libur sekolah, hari dimana kebebasan berpihak pada semua pelajar yang sters. Pagi ini adalah pagi yang paling pas untuk menghirup udara segar nan sejuk. Tepat, pilihanku sangat tepat. Taman kota ini sangat tepat untuk aku menghirup udara segar seraya melepas penat yang ada di dalam pikiran. Sejuk, rimbun, dan lembutnya kicauan burung camar, melengkapin suasana pagi ini. Dari kejauhan pandangan mataku, aku manangkap sosok gadis yang aku kenal. Yah.. gadis itu adalah gadis yang membuat tidur ku tidak nyeyak setiap malamnya. Aku langsung menyampirinya.
”Apakah seorang penulis itu hanya duduk termenung sambil memegang pulpel di tanggannya” tegurku yang memecah keheningan taman.
”Ehh... Kamu kok ada di tempat ini. Kamu bukan ngikutin aku kan..” tanyanya.
“Aku bukan bodyguard kamu kali, kalau kemana-mana aku ikutin” ucapku yang memperjelas.
“Aku fuad” seruku serasa mengulurkan tangan kearah gadis itu.
“Oh, nama kamu toh fuad. Aku pikir kamu tuh gk punya nama” ucapnya yang cuek.
”Emang lagi nulis apa sih, sampek segitu serius nya. Nanti botak lo, kalo serius gitu” ucapku.
”Biarin aja” jawabnya singkat.
”Pagi ini begitu indah dan sejuk, tapi sayangnya ada mahluk pengganggu pagi yang indah ini. Sehingga aku ingin berlari, berlari menjeburkan diri ini kedalam air. Agar aku tidak terkena rayuannya.” ucap gadis itu yang sangat keras.
”Kamu nyindir aku ya. Maaf kalo aku ganggu kamu lagi nulis” seruku.
”Ganggu kali pun...’ becanda. Aku tadi lagi baca puisiku yang baru aku buat, ketika kamu datang” jawabnya.
”Boleh aku duduk di sini”
”Silakan.. ’kamu ne orangnya kuper ya. Kemana-mana sendirian aja?” tanya gadis tersebut.
”Baru kamu loh, yang bilang aku ne kuper” jawabku yang membantah.
”Berarti kamu tidak punya teman yang benar-benar bisa baca kamu. Aku baru kenal kamu aja udah bisa nebak, kamu itu kuper” ucap gadis tersebut.
”Rumah kamu dimana?” tanya ku yang sangat percaya diri.
”Untuk apa kamu nanyak rumahku” tanya balik gadis tersebut.
”Untuk membuktikan, bahwa aku bukanlah orang yang seperti kamu pikirkan”

Sebentar lagi jam delapan, aku harus buru-buru berpakaian yang super cool kali ini. ’Biar dia tau siapa aku’ gumamku dalam hati. Tok.tok.tok... ”ya ada yang saya bisa bantu”. Saut seorang ibu-ibu, yang sepertinya pembantu rumah ini. ”apa benar ne bik, rumahnya ainun mahya”. Tanya ku, ”benar. Tunggu sebentar ya, bibik panggilin dulu. Non, non ada tamu ni”. Panggil bibik tersebut. ”siapa bik”. tanya seseorang yang sepertinya suara ainun. ”gk tau non, katanya mau nyari non”. Jawab bibik tersebut. ”bilang tunggu sebentar bik”. Seru ainun. ”iya non”. ’selang beberapa detik, ainun turun dari atas tangga rumahnya’. ”oh kamu fuad, aku pikir siapa tadi. Ada apa fuad?”. ”mau membuktikan pada kamu, bahwa aku bukanlah orang yang seperti kamu pikirkan semalam”. Jawabku dengan pede. ”aku Cuma bercanda semalam”. Tambah gadis tersebut. ”kamu ada acara gk hari ini”. Tanyaku lagi. ”gk ada”. Jawabnya. ”kamu mau ikut aku”. ajakku. ”kemana”. Tanyanya singkat. ”kemana aja yang bisah membuat kita tertawa”. ”ayok”. Ucapnya yang sepertinya mau.

Hari-hariku selalu cerah menderang setiap paginya. Senyuman-senyuman kecil selalu memerekah belakangan ini. Letupan-letupan besar sudah menyerang jantung ku sejak saat itu. ’apakah aku jatuh cinta padanya?’ tanyaku pada diriku sendiri. Rasa ini beda, rasa yang mungkin tidak aku dapat dari sosok perempuan mana pun. Aku banyak berhadapan dengan wanita manapun, tetapi rasanya biasa saja. Tapi seketika aku berhadapan dengan ainun, rasanya jantung ini berdetak dengan sangat kuat, darah ini naik turun, dan mulut ini tidak bisa berkata-kata.

Sudah 3 tahun aku mengenal ainun dengan begitu baik. Senyumnya, tawanya, raut mukanya itu yang gk pernah hilang dalam pikiranku. Dan sudah 3 tahun ini pula aku menyimpan rasa, rasa yang membuat aku terikat. Batin ini rasanya selalu menjerit-jerit. Entah apa yang membuat mulut ini tidak bisa mengungkapkan semua ini.

(Udara malam, mampu meninggalkan jejak kedinginan. Sedangkan udara yang ku rasakan saat ini, mampu meninggalkan jejak kerinduan. Aku tak tau dengan semua rasa ini?. Dan aku tidak tau dengan alur kisah ini. Pernah aku bercerita pada sang bulan, apa akhir dari kisah ini. Tetapi sang bulan itu menghilang ditelan gelapnya awan hitam. Aku sempat jenuh saat itu. Saat dimana hati ini mau bebas, tetapi mulut ini tidak mau berkata-kata. Emmm.. sepertinya aku ingin menjadi burung-burung itu. Terbang bebas, kemana ia suka, terbang bebas kemana ia akan hinggap.)

Aku mendapat kabar dari widi, temanya ainun. Kata widi, ainun sekarang ada dirumah sakit. ”kenap ainun bisah masuk rumah sakit” tanyaku pada widi. ”aku juga gk tau, emang dari dulu ainun sering sakit-sakitan. tapi dia gk pernah cerita soal penyakit yang ia derita” jawab widi di tengah-tengah kekewatiran ini. Aku langsung lari menuju rumah sakit martapura. Dijalan aku hanya termenung sedih, sesampainya aku dirumah sakit, Ku lihat ibu dan ayahnya ainun sedang menangis di ruang tunggu. Aku langsung menghampiri, ”om, tante. Ainun sakit apa?” tanyaku yang penuh kesedihan. ”ainun terkena kangker darah, udah dari kecil ainun menderita sakit inil” jawab mamah ainun yang menangis. Tidak butuh waktu yang lama, aku juga ikut menangis menatap tubuh ainun yang di beri alat pembantu pernapasan.

Semua kisahku dengan ainun mahya ku tulis dalam relung hati ini. Mulai dari pertama bertemu, sampai ketika ainun tergeletak sakit di RS. Aku tidak mau kisah ini berakhir dalam tong sampah, yang aku mau kisah ini berakhir dengan senyuman dan bingkaian. Tetapi itu semua hanya angan-angan kosong, yang ku tau saat ini adalah ainun tidaklah akan lama lagi bisa menghirup udara ini. Karna ainun sudah diponis oleh dokter, akan hidup beberapa hari lagi. Tetapi aku yakin, dokter bukanlah Tuhan yang tau umur seseorang. Aku terus datang setiap harinya, dan membisikan ditelinga kirinya, ’nantik kalau kamu bangun, aku akan mengajak kamu kesuatu tempat yang sangat indah. Yaitu kebulan, kamu maukan. Ayo kamu bangun’ air mata ini tak mampu lagi ku bendung, karna rasa sayang ini terlalu besar padanya. Tetapi tuhan berkehendak lain, 17 mei 2010. Ainun pulang kepada sang pencipta. Aku tak percaya ini semua bisah terjadi. Aku sangat menyesal, karna disisah hidupnya aku tidak pernah membuat di bahagia. Dan yang membuat aku sangat terpukul adalah selama ini aku tidak pernah mengetahui penyakit yang diderita ainun. ”fuad, ini buku deary ainun. Dia berpesan, ’kalau ainun gk ada di dunia ini lagi, nantik buku diary ini mamah kasih fuad ya! Mamah janji yah.” seru mamah ainun yang memberi buku diary dan terlihat jelas mamah ainun sangat terpukul akan kepergian anak tunggalnya.

Perlahan demi perlahan aku mulai membuka lembaran demi lembaran buku diary ainun. Tepat pada lembaran ke-7.
2 febuary 2010.
Malam diary, hari ini tak begitu baik untukku. Karna aku sangat sedih dengan penyakit yang aku derita selama ini. Tetapi, kata mamah aku harus tetap senyum, dan gk boleh nangis apalagi ngeluh. Dan kata mamah lagi, Allah itukan dekat kita, jadi kenapa kita harus sedih, yakan diary.

Tetapi setelah kubuka lembar terakhir didalam diary tersebut, tertuliskan kata.
Malam Diary.
“Aku bingung, aku merasakan sesuatu yang sangat berbeda saat berhadapan dengan orang itu, fuad. Tanganku tiba-tiba gemetar, jantungku pun berdegup dengan sangat kencang. Apa ini yang namanya jatuh cinta? Sebelumnya ini tak pernah aku rasakan, aku sering bertemu dengan lawan pria, aku suka pada mereka, tapi hanya sebatas teman. Tapi kenapa saat pertama kali aku ketemu dia rasanya lain. Aku tidak suka perasaan ini, aku tidak mau jatuh hati padanya. Menurutmu apa yang harus ku lakukan?. Tetapi aku tidak mau rasa ini menjadi terlalu dalam. Sebab, aku tau siapa aku ini. Hanya perempuan yang sakit-sakitan, dan tak akan lama lagi hidup. Udah dulu ya Diary,udah malam”. Aku tak tahan lagi membaca satu persatu kata-kata ini. Kata-kata yang membuat aku semakin tidak bisah melupakannya.

Hingga 1 tahun berlalu, aku tidak pernah membuka hatiku sedikitpun untuk perempuan lain. Aku tau ini hanya membuang-buang waktu saja. Hingga aku bertemu dengan adik kelas di sekolah dulu, seorang perempuan yang tidak pernah aku tuliskan namanya di dalam hati ini, namun Dia sudah tertulis di takdirku. Youland Seorang wanita yang sangat baik yang rela menunggu hatiku terbuka untuknya, bukan hanya 1 atau 2 tahun tapi sudah 5 tahun. Seorang menyukaiku sewaktu kami masih Sekolah, seseorang yang diam-diam melihatku melewati kelasnya di balik jendela, dan dia tidak pernah berani mengungkapkannya, sampai saatnya kini dia berani mengutarakan perasaannya kepadaku lewat twitter. Dia yang telah membuat hidupku semakin sempurna, hingga saat ini.

’Awan hitam dilambangkan sebagai kesedihan, sedangkan mentari itu dilambangkan sebagai kecerian. Tetapi apabila awan hitam dan mentari itu digabungkan, pasti akan memunculkan yang namanya pelangi. Dan aku percaya  bahwa pelangi itu sendiri pasti bisah menghapuskan inggatanku akan masa lalu’.

Blog: ciimumutz.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar