Rabu, 28 November 2018

PERLUKAH REUNIAN 212 ??



Aksi 212 tahun lalu berhasil menarik umat islam ratusan ribu bahkan jutaan turun ke jalan, aksi itupun menjadi awal aksi-aksi serupa setelahnya. Mengingat tuntutan awal aksi ini, yakni memenjarakan Ahok dan penolakan terhadap pimpinan Kafir telah ‘terpenuhi’, apakah aksi serupa masih perlu dilakukan?
Pada tanggal yang sama di tahun ini, Presidium Alumni 212 akan melakukan ‘reuni’ 212 yang rencananya dilakukan di Monas. Ketua Presidium Alumni 212, Slamet Maarif mengatakan bahwa aksi ini akan dilakukan dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus reuni akbar 212 serta diisi dengan kegiatan salat subuh berjamaah, dzikir, tausiah, dan sambutan/ceramah. Namun tak dipungkiri, terdapat beberapa isu utama yang akan dibahas dalam aksi ini, antara lain mengenai reklamasi teluk Jakarta, kasus anggota DPR dari Fraksi Nasional Demokrat, Victor Laiskodat, yang diduga telah melakukan penistaan agama, serta kasus Buni Yani.
Dukungan terhadap reuni 212 ini datang dari Ketua Komunitas Sarjana Hukum Muslim Indonesia (KSHUMI), Chandra Purna Irawan, pihaknya mendukung penuh diadakannya acara tersebut namun demikian tetap taat pada norma dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Senada dengan hal tersebut, KH Abdurrasyid Abdullah Syafii yang merupakan pimpinan Pondok Pesantren Asy Syafi’iyah menyerukan untuk terus merawat energi Al Maidah 51 dan persatuan umat Islam melalui aksi tersebut. Hal serupa juga disampaikan oleh Dewan Syuro FPI Pusat, KH Misbahul Anam yang menyerukan umat Islam untuk terus bersatu, tanpa harus ada penistaan agama.
Namun disisi lain, Ketua Umum PP Muhammadiyah, salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia, Haedar Nashir menganggap aksi reuni 212 sebagai bentuk aksi yang bersifat kontraproduktif. Dirinya pun memastikan tidak akan hadir dalam aksi tersebut. Menurutnya, hal yang terpenting bagi Indonesia saat ini adalah membangun gerakan kebangsaan. Ia pun menambahkan Muhammadiyah lebih mendukung gerakan yang berimplikasi pada kemajuan.
Mengadakan acara keagamaan seperti ini merupakan hal yang sangat positif dan dapat memperkuat ukhuwah Islamiyah, namun akan sangat kontra produktif apabila aksi ini dilakukan sebagai penggalangan kekuatan untuk menekan pemerintah dan mencapai tujuan politik tertentu, seperti yang disampaikan pengamat politik Karyono Wibowo yang menilai bahwa aksi reuni 212 kental akan aroma politik.
Segelintir oknum juga dikhawatirkan akan memanfaatkan momentum tersebut sebagai bahan Pilkada serentak 2018 dan Pemilu nasional pada 2019.
Berkaca dari penyelenggaraan Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu, isu agama acapkali digunakan untuk meraih keuntungan politik padahal rawan menimbulkan perpecahan. Secara objektif, apabila tujuan utama aksi reuni 212 ini merupakan kegiatan keagamaan dan menjaga persatuan bangsa, maka hendaknya dilakukan di tempat-tempat yang relevan, seperti Masjid dan dapat diadakan di masing-masing daerah.
Partisipan hendaknya cerdas dalam menjaga ketertiban dan keamanan selama aksi berlangsung, jangan mudah diprovokasi apalagi diintimidasi. Karena apabila kerusuhan terjadi dalam aksi ini, tak pelak justru akan mengganggu ketertiban umum serta jalannya roda pemerintahan, menimbulkan  'perpecahan', bahkan akan sangat menyedihkan apabila menimbulkan sentimen negatif terhadap umat Islam.
            Kesimpuanya dari ‘Perlukah Reunion 212?’ menurut kaca mata saya pribadi sangat perlu. Kalau kita mau berkaca kebelakang saat terjadinya Aksi 212 di Monas, aksi tersebut adalah aksi yang sangat-sangat kondusif dan tertif. Sampai rumput-rumput yang di tanam di pelataran Monas sekalipun tidak ada yang merusak, bahkan ada tim dari aksi 212 yang tugasnya mengamankan dan mengutip sampah-sampah dari para aksi 212 di Monas. Walaupun banyak orang yang mengait-ngaitkan aksi ini terendus politik praktis. Terlepas dari semua persoalan ini, reunion 212 ini adalah ajang saling silahturahmi antara umat islam bahkan kepada umat non islam sekalipun.

Mari bersatu dalam semangat kedamaian dan persatuan bangsa Indonesia.

Rabu, 18 Februari 2015

Di atas langit

Debu bertebaran, tak kasat mata tetapi dapat dirasakan. Terbang, menyatu bersama angin kering dan pusara siang yang terik. Pohon di sepanjang jalan yang tak terurus tetapi bertahan hidup di tengah kepelikan duniawi. Mengguncang bagai laras pistol yang hendak ditembakkan.
Di ujung bangku taman seseorang duduk. Tak menghiraukan udara yang kotor dan berpolusi diserap oleh paru-parunya dan merusak kesehatan. Di belakangnya, seseorang berdiri mengawasi gerakannya. Sesekali memandang ke jalan, berharap agar tiada yang tahu apa yang mereka lakukan di sana.
“Aku tidak tahan. Katakanlah apa maumu, Anna,” pinta orang yang berdiri. Suaranya serak dan berdesis.
Anna, gadis itu, merenung. Matanya lurus ke arah jalan, masuk lebih jauh menjelajahi apa yang ada di balik gedung-gedung bertingkat dan menembus semuanya; jika memang bisa, dia ingin melakukannya. Tetapi dia hanya manusia biasa, rapuh dan nyata. Kenyataan yang dihadapkan padanya tidak seindah mimpi-mimpi anak kecil yang belum mengenal dunia. Dia, orang yang memahami kehidupannya atas kesalahan yang telah diperbuat.
Tetapi dia menyerah pada takdir, berusaha untuk mengubah nasib, atau mengubah apapun yang bisa diubahnya; dalam hidup ini.
“Kau ingat hari ini, bukan?” suaranya, sebaliknya dengan pria di belakangnya, sangat tenang dan merdu. Mirip kicau indah burung nuri. Karena pria itu tidak menjawab, dia meneruskan, “Dewa angin membawa kebencian keluar dari daerah ini, karena itu hawa yang kau rasakan sangat berat dan keras. Sabarlah, Daniel, sebentar lagi sang dewa akan membersihkan angin di sini.”
“Aku tidak tertarik,” kata Daniel meringis, memutar bola matanya dengan sikap malas. “Dewa ilusimu itu tidak akan membantu di saat tersulit sekalipun. Anna, di mana letak keyakinanmu?”
Gadis itu tidak bergerak. Tubuhnya mendobrak untuk menampar pria itu, tetapi hati nuraninya tetap tak mampu. Sepedas apa pun perkataan Daniel, dia tidak bisa menyakiti pria yang pernah menolongnya dalam keadaan sesulit apapun. Daniel-lah dewanya.
“Keyakinanku terbentuk setiap aku bergerak, bernapas dan berbicara, juga berpikir,” kata Anna singkat. Ia menengadah ke atas, melihat wajah pria yang mengisi hatinya selama bertahun-tahun. Mata mereka beradu. Goresan luka tersirat di antara kedua mata itu, namun tak ada yang berani membuka percakapan.
Angin menderu-deru, semakin kencang dan bengis. Mendukung tragedi yang terjadi pada keduanya.
Daniel menggeleng. “Anna, kita tidak bisa. Kita berbeda, sangat berbeda.”
Anna tak bergerak. Sekuat tenaga menahan air yang hendak keluar dari pelupuk matanya. “Kita memang berbeda, Daniel. Tapi… mungkinkah di atas langit sana, kita akan menjadi insan yang sama dan bisa bersama selamanya?”


blog :ciimumutz.blogspot.com

Selasa, 03 Februari 2015

kabut kebahagian

“Juni… Ini ibu nak.. Ibu rindu ingin bertemu kamu….”
Sayup-sayup, kudengar suara itu. Suara yang acap kali datang merasuki, melebur dan menyesakkan dalam mimpiku. Aku terbangun tiba-tiba dari mimpiku. Aku menggosok mataku yang sepertinya masih melekat. Kupandangi sekelilingku. Masih pagi buta. Udara dingin menembus relung-relung jiwaku. Aku beranjak cepat dari alas tidurku yang terbuat dari kardus tua, ketika air dari atap emperan toko menetes tiba-tiba. Aku segera terkesiap sembari meraih karung berukuran cukup besar, yang telah berisi barang-barang bekas yang kuanggap sebagai penyambung hidupku, setiap hari.
Namaku Juni. Aku adalah seorang pemulung. Hari-hariku ku isi dengan bekerja, bekerja dan bekerja. Sebatang kara hidupku. Tak tahu asal-usulku. Hanyalah Mbok Sarmi yang kupunya sekarang. Profesinya sama sepertiku. Ia menemukanku 8 tahun silam ketika aku masih bayi. Usiaku cukup belia. Tapi aku tidak sekolah, kawan. Aku tidak bisa.
Aku berjalan, menggendong sekarung barang, menelusuri emperan-emperan toko yang masih sepi, dan menjauh dari sana. Jalanan tampak lengang. Hanya kubangan-kubangan air karena hujan tadi malam di bulan November ini. Mencoba membuka satu-persatu tempat sampah. Mencari-cari yang sedang kubutuhkan. Namun sayang, rasanya sampah sudah dibersihkan oleh petugas. Dan aku tidak mendapatkan bagian darinya. Aku tak mendapat apa-apa.
Kuputuskan untuk pergi menuju suatu tempat dan menunggu hari. Aku menyusuri jalanan yang lembek dan licin. Melewati dinginnya air sungai yang terlalu jernih. Tibalah aku di atas bukit nan megah. Aku duduk diam di atas sebuah batu legam yang dingin rasanya jika diduduki. Tepat di sisiku, sebuah phon rindang memancarkan kesejukan. Kuletakkan karungku yang berwarna kelabu, yang sudah kelaparan untuk diisi sesuatu lagi.
Aku menatap langit timur. Matahari nampaknya akan bangun meninggalkan tempat peraduannya dan menyapa tiap insan di dunia. Ku layangkan pandanganku sejauh 1 mil dari tempatku terduduk sekarang. Gedung-gedung bertingkat berdiri megah di sana. Kabut menyelimuti pandanganku. Aku menoleh ke arah tanaman kerdil di depanku. Embun terjatuh dari ujung salah satu daunnya dan menimpa sebuah batu yang telah cekung dan berlumut karena telah terkikis oleh tetesan ribuan air sekian lamanya.
Aku diam dan merenung. Merambah masa laluku. Angin menyapa lembut raut wajahku yang mulai muram. “Ayah… Ibu… Di mana kalian kini? Aku ingin bertemu…” Rindu yang begitu menusuk sukmaku. Aku bingung. Adakalanya, aku ingin menangis karena kerinduanku yang teramat sangat. Adakala dimana aku ingin marah, kenapa mereka tega mencampakkanku. Sendiri, tanpa dosa, di atas tumpukkan sampah. Yang bisa kulakukan hanyalah berdoa, “Tuhann, tolong.. untuk sekali saja, pertemukanlah aku dengan mereka.. Hanya satu pintaku, Tuhan…”
Air mata setia untuk mengalir. Deras di pipiku. Seorang anak yang hidup dalam kesendirian tanpa kedua orangtua, tanpa saudara kandung. Hidup terlalu berat untuk kujalani.
Perlahan, aku membuka mata. Tampak samar pandanganku karena masih dipenuhi bulir-bulir air mata yang hendak tumpah. Jauh di sana, kicauan burung terdengar samar-samar. Langit tampak pucat merah. Masih ada mendung di sana. Matahari tak bersinar secerah hari biasa. Kabut benar-benar berkuasa. Membenamkan rasa kesendirian. Hela nafasku semakin sesak.
Aku mengusap mataku, menghapus air mata di sana. Aku tahu.. waktu tidak ‘kan mungkin berjalan mundur, bahkan bila aku memohon. Tidak mungkin aku dapat menoleh ke masa laluku, dan mencari asal-usulku. Tidak. Tidak mungkin. Yang kini harus kulakukan bukanlah merenung. Merenungkan sesuatu yang mustahil. Aku harus kuat, aku harus tabah. Hidupku, harus berjalan dengan semestinya. Meski aku tak mengetahui kedua orangtuaku siapa dan di mana.
Pelan, aku bangkit dari batu yang telah lama kududuki, hingga rasanya tak sedingin awal. Sehangat perasaanku, yang perlahan mulai menerima kenyataan hidup. Aku meraih karungku di sana. Berdiri sejenak dan melihat sekeliling. Tidak ada yang berubah dari keadaan mereka. Aku sadar, “Sesuatu tidak mungkin dapat berubah, kecuali jika ada yang merubah keadaannya menjadi yang lain”, pikirku dalam hati.
Angin berhembus perlahan. Menjemputku kembali dan membisikkan kata-kata. Menemani langkahku selama aku berjalan. Kembali bekerja sebagai seorang pemulung, demi kehidupanku.
“Aku masih punya Mbok Sarmi. Aku tak perlu takut kesepian.”, tekadku dalam hati. Sambil berlalu dari bukit itu aku mengucap doa kepada Sang Illahi, “Tuhan, aku sungguh bersyukur atas segala anugerah-Mu. Aku bukanlah seorang anak yang kesepian, karena Engkau telah telah mengirimkan malaikat dalam kehidupanku yang menjadikanku tidak sendiri lagi, Mbok Sarmi. Terima kasih atas segalanya, Tuhan. Lindungilah kedua oarngtuaku selalu, kapan saja dan di mana saja, meski aku tak pernah menyapa dan membelainya. Kabulkanlah doaku Ya Allah.. Amin”
Aku menuruni bukit itu dan kurasakan mentari tampak bersinar cerah. Awan mendung memberikan jalan bagi sinarnya, untuk menghangatkan hati yang dingin. Dan menghibur hati yang sedang berduka, menyinggirkan laranya. Alam kini mulai tersenyum. Di ufuk timur, kulihat angkasa bercahaya. Menebar senyum kebahagiaan. Aku berlalu dari sana, dan tersenyum bahagia.
“Terima Kasih, Tuhan..”

Sabtu, 31 Januari 2015

RENUNGAN



JANGAN ABAIKAN INI!! !                          
“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepada-ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu. hanya kepada-ku-lah kembalimu.”
                                      (QS.Luqman: 14)

Selama masa Sembilan bulan, itu bukanlah saat-saat yang mudah atau ringan, ada banyak keluhan yang aku harus hadapi dan aku tanggung dengan penuh kesabaran. itulah yang harus di tanggung seorang perempuan yang kelak disebut dengan panggilan ibu, bunda, ummi, mamak, atau mom dan sebagainya. aku terus menyimpan bayangan yang serba indah tentang buah hati yang akan segera lahir kedunia. betapa indahnya ketika si kecil terlahir dengan bentuk yang utuh, lucu dan menggemaskan. betapa bahagianya ketika aku menyusui si kecil, memeluknya dalam dekapan kehangatan, dan menggendongnya hingga ia terlelap dalam tidur. betapa berharganya seorang anak yang akan merawat dan menyayangi aku ketika aku sudah lanjut usia, ketika aku tidak lagi bisa berjalan, dan ketika aku tidak bisa mengenali siapapun.
Kehidupanku terasa sangat sempurna, ketika anak pertama yang aku tunggu-tunggu terlahir kedunia dalam keadaan sehat. wajah yang lucu, kulit yang masih merah, bibir yang masih tipis menagis dipelukanku. aku tak bisa membendung air mata yang keluar karena ia terlahir dengan normal dan begitu sempurna di mataku. detik-detik melahirkan, aku menangis, meraung, menjerit, hingga hilang perih dan sepi. tetapi semua yang aku rasakan hanya ada satu, anak ku bisa selamat. hanya itu kata yang ingin ku ucapkan kepada semua orang yang ada dirumah sakit, tapi aku tidak bisa berbicara karna rasa sakit. karna rasa sakit itu, sudah menghantui ku sejak berjam-jam yang lalu.  sejak malam mulai dingin, sejak jalan mulai senyap. disitu aku merasakan sakit yang bertambah-tambah, sakit yang menyusuk-nyusuk ubun-ubunku. aku pendarahan hebat saat itu, sampai-sampai semua orang merasa cemas dan pucat di ruang tunggu.
“Selamat buk, anak ibu laki-laki yang sehat” kalimat ini yang ingin selalu aku dengar dan kurekam dalam memori otak, karna aku tidak ingin menghapusnya apalagi melupakannya. semua rasa sakit yang kurasakan berjam-jam yang lalu, semuanya telah sirna. tangisan bayi yang lucu dan mungil, membuat rasa sakit ini terobati.

SAKIT
Rasa sayang ini takan pernah hilang ataupun bisa tergantikan dengan yang lain. ketika si kecil  menagis di sepertiga malam, aku kuatir dan merasa takut dengan anak ku. sampai-sampai aku tidak bisa tidur hingga petang merambat keluar jendela. ku ambil obat dan ku kompres badanya yang hangat. sedikitpun rasa kesal dan benci tidak pernah terlintas dalam pikiran, yang ada hanya rasa sayang dan sayang yang terlalu besar. aku tau, badan ku juga tidak sehat. setiap malam aku harus bergadang demi si kecil, setiap malam aku bernyayi demi mereda tangisan-nya.
Malam terasa siang ku rasakan. ku merawat dengan penuh amanah sang pencipta, membelai dengan kasih sayang dan pengorbanan. tak ku hiraukan arah angin yang kadang-kadang berubah-ubah.

BERANJAK BESAR
Ketika pagi datang, aku dengan sigap membuka mata secepat kilat. aku tidak mau sedetikpun terlambat bangun dan membuat serapan untuk anakku. si kecil, bukanlah si kecil lagi. ia sekarang sudah tumbuh dewasa. ketika beranjak lima tahun, aku daftarkan ia di sekolah playgroup. aku berharap ia lebih pintar dan lebih tinggi derajatnya dari aku saat ini. ketika hari pertama masuk sekolah, aku harus menunggui dari mulai hingga selesai kelas, karena tidak semua anak yang mau di tinggal begitu saja di sekolah ketika hari pertama sekolah. belum lagi ketika ia rewel, ngambek, dan nangis ingin pulang saja, atau tidak mau sekolah. dengan kesabaran aku terus membujuknya supaya ia mau masuk sekolah. padahal, itu semata-mata untuk masa depanya, bukan untuk aku.
Ketika aku berjalan-jalan di taman, ia selalu mengulang-ulangi permintaan-nya, yaitu meminta balon. ia mengulangi permintaan itu sampai aku harus  membelikan-nya. ketika ia bertanya tentang sesuatu yang tidak ia tau, ia akan bertanya pada ku berulang-ulang kali. pernah terlintas rasa kesal, akibat selalu mengulang-ulang jawaban yang itu-itu saja. tapi rasa itu aku buang jauh-jauh kedasar jurang lalu aku pendam. ketika ia beranjak dewasa, aku selalu menanamkan budi pekerti, cara bergaul yang baik dengan temanya, guru, dan orang lebih tua darinya. itu semata-mata agar ia memjadi anak yang baik.

RENUNGAN
kalian semua adalah pemimpin (penggembala) dan akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya atas pimpinannya. seorang lelaki adalah pemimpin bagi istrinya, kelak akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya, seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, kelak akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari-Muslim). dari hadist di atas, terpancar jelas bahwa seorang ibu tidak hanya mengemban tugas mengandung, melahirkan, dan menyusui selama dua tahun. tetapi lebih lengkap, yakni merawat, menjaga, sekaligus mendidiknya. tanggung jawab itu mungkin terasa berat, tetapi itulah keistimewaan yang dikaruniakan Allah kepadanya, dibanding dengan makhluk-makhluk yang lain. Allah juga memberi kelebihan berupa surga di telapak kakinya, yakni bagi anak-anaknya. ibu melakukannya dengan ikhlas tampa terpaksa
sampai saat ini, sudahkah kita membalas budinya?
sudahkah kita membahagiakannya?
betapa tidak baiknya, jika kita kadang marah kepadanya, atau membantah perintahnya. betapa durhakanya jika kita menyakitinya atau membuatnya menitikkan airmata karena ulah kita. “barangsiapa yang merelakan diri terhadap kedua orang tuanya berarti ia rela (senang) terhadap Allah, dan barangsiapa yang memarahi kedua orang tuanya maka ia seperti memarahi Allah.”(HR. Bukhari).

MENIKAH
Ketika kamu menikah, aku merasa kesepian disini. berteman dengan sepi dan dingin. kemanahkah kamu sekarang, aku disini merindukanmu, merindukan tangisan mu, tertawaanmu, dan sifat ngambekmu. apa kamu lupa dengan aku, tapi mana mungkin kamu bisa lupa dengan aku. pasti kamu sibuk atau sedang ada kerjaan disana. aku hanya berharap, jangan lupa pulang kerumah.
Dan ketika aku berjumpa dengan mu, dan tinggal bersamamu. aku merasa sangat senang, sekarang kamu sudah sukses dan mempunyai seorang anak yang sekaligus menjadi cucuku. tapi kenapa kamu sedikit berubah padaku. sekarang kau terlihat lebih kasar, kalau sedang pulang kerja. mungkin kamu kecapean atau sedang ada masalah di kantor.
Maafkan aku yang selalu memecahkan piring saat aku sedang makan, karna tanggan ku tidak lagi kuat memegang piring yang terlalu berat. dan maafkan aku yang selalu menggulang-ngulangi pertanyaan yang itu-itu saja, karna aku sudah banyak yang lupa. aku senang bisa bermain dengan cucu-cucuku, walau menantuku selalu melarangku untuk dekat dengan anaknya, karna aku bau. aku bau bukan aku kotor, aku bau karna aku tidak tahan saat mandi, karna airnya terlalu dingin yang menyusuk-nyusuk kulitku.
Kamu masih ingat gk, saat itu kamu meminta balon di taman. kamu selalu menari-narik celanaku, sambil meminta berulang-ulang, sampai aku membelikanya, baru kamu diam. dan kamu masih ingat gk, ketika kamu tidak mau makan dan kamu berlari-lari. aku berusaha mengejar kamu, hanya untuk sesendok nasi yang masuk kemulutmu. sekarang kamu sudah besar dan memiliki seorang anak, aku hanya berharap didiklah anak mu dengan kasih sayang, sebagaimana aku menyayangimu sewaktu kamu masih kecil.

RENUNGAN II
dari abu hurairah ra. ia berkata: seorang laki-laki bertanya kepada rasulullah saw., “ya rasulullah! siapa dari keluargaku yang berhak atas kebaktianku yang terbaik?” beliau menjawab, “ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian baru bapakmu, kemudian yang terdekat denganmu, yang terdekat!” (HR. Muslim).
Dari hadist diatas menjelaskan, bahwa kebaktian kita semasa hidup kita tujukan terutama kepada ibu kita lalu ayah kita, kemudian yang terdekat dengan kita. subhanallah, betapa mulianya ibu dan ayah. kita wajib berbakti kepada sosok mulia yang tampa perantaranya kita tak akan terlahir di dunia ini. sampai-sampai berbakti kepada ibu dan ayah hukumnya wajib. sebanding dengan kewajiban shalat, zakat, dan puasa. bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa berbakti kepada ibu dan ayah sebanding dengan menyembah Allah swt. “Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu-bapak dengan sebaik-baiknya.”(QS. al-Isra’:23). Abdullah bin amru bin ash ra. menceritakan, bahwa seorang lelaki datang menghadap Muhammad rasulullah saw. lalu lelaki itu berkata, “aku bai’at (berjanji setia) dengan engkau akan ikut hijrah dan jihad, karena kau ingin memperoleh pahala dari Allah swt.”
“Apakah orang tuamu masih hidup” Tanya nabi.
“Bahkan keduanya masih hidup”jawab lelaki tersebut.
“Apakah kamu mengharapkan pahala dari Allah?”
“Benar, ya rasullah”
“Pulanglah kamu kepada kedua orang tuamu, lalu berbaktilah kepada keduanya sebaik-baiknya,” perintah rasulullah saw. (HR. Muslim).
ada banyak cara untuk menunjukkan bukti kecintaan dan kebaktian kita kepada ibu dan ayah. di antaranya:
o  berbicara dengan bahasa yang sopan santun kepada keduanya
o  berbuat baik kepada ibu dan ayah
o  menyenangkan hati ibu dan ayah
o  bersedekah untuk ibu dan ayah
o  berhaji untuk ibu dan ayah
o  meminta maaf kepada ibu dan ayah

walaupun hari ini bukan hari ibu
tetap ku katakana I love mom
sebenarnya aku tidak tahu harus melukis bagian
mana dari wajahmu
karna wajahmu terlalu banyak cahaya ketegaran
sehingga aku tidak dapat melukis garis-garis wajahmu

ingin ku berlari jauh, jauh di ujung sana
dan berteriak serak, terjatuh
namun ku membisu dan mematung
ingin ku melompat dari gedung tinggi itu
namun aku takut, ada yang menampung ku
dari dasar tanah

kau itu malaikat tampa sayap
mungkin, sayapmu kau lepas untukku
mungkin, sayapmu kau jual demiku

aku tidak bisa terlalu lama berdiri menungu sepi
sunyi, dan meredahnya hembusan angin
aku ingin mengatakan
kau adalah nafasku
kau adalah urat nadiku
aku sayang kamu ma!

CIIMUMUTZ.BLOGSPOT.COM


Kamis, 22 Januari 2015

bakso atu rinso



Andi sedang bermain bola bersama teman-temannya di taman dekat tempat tinggalnya saat Ibunya memanggil.
“Andi, kemari nak. Ibu perlu bantuan kamu ni..” teriak Ibunya dari teras rumahnya yang tak jauh dari taman.
“Bentar ah Bu.. Nanggung ni mainnya..” sahut Andi sambil melempar bola yang digenggamnya, karena ia bertugas sebagai penjaga gawang.
“Nanggung-nanggung? Gigimu nanggung. Yakin ni nggak mau. Ntar nggak Ibu bikinin puding baru tau rasa..”
“Iya deh, iya. Andi bantuin.” potong Andi sebelum Ibunya selesai berbicara, kerena ia sangat suka dengan puding buatan Ibunya.
Andi pun memilih berhenti bermain bola dan bergegas menemui Ibunya yang membutuhkan bantuan dirinya.
“kenapa Bu..?” ucap Andi begitu sampai di teras rumahnya.
“Ibu mau nyuci, tapi deterjen Ibu habis. Kamu belikan rinso gih di warung Mak Inong. Ini uangnya 10 ribu, jangan lupa kembaliannya. Ntar kamu jajanin lagi kayak kemarin. Kalau kembaliannya berkurang, Ibu kurangin juga jatah puding kamu.” Jelas Ibunya panjang lebar.
Andi yang baru bersekolah di tingkat SD kelas tiga tersebut hanya menjawabnya dengan kata “iya” yang disertai dengan anggukan lugunya dengan ekspresi wajah cemberutnya. Ia berjalan pelan meninggalkan Ibunya di teras rumah.
Di tengah perjalanan yang lumayan sepi, ia melihat seorang pengendara sepeda motor yang melaju dengan kecepatan tinggi dan tiba-tiba “Brraaakkk…” pengendara tersebut menabrak seorang Ibu-Ibu paruh baya yang sepertinya sehabis berbelanja di Pasar Sore. Barang-barang belanjaannya berserakan di jalanan, sementara pengendara yang menabrak Ibu tersebut melarikan diri dengan sepeda motor miliknya. Andi yang berada di dekat tempat kejadian dan melihatnya secara langsung menjadi shock. Pasalnya hanya dia seorang yang berada di tempat itu, tempat yang terbilang cukup sepi. Meskipun sedikit ragu dan gemetaran, anak yang baru berusia 9 tahun tersebut memberanikan dirinya untuk mendekati si korban. Ia pun berteriak keras meminta tolong “Tolong… tolong… tolong.. Ada yang kecelakaan…” Warga yang mendengar teriakan Andi bergegas mencari dan mendekati sumber suara.
Ketika banyak warga yang datang, bukannya membuat segalanya menjadi lebih mudah, justru memperburuk kecemasan Andi karena warga yang datang tidak bergegas menolong korban melainkan mananyakan kronolis kejadiannya kepada Andi. Ia hanya terdiam terpaku, tanpa sepatah kata pun muncul dari bibir kecilnya. Beberapa di antara warga yang menyadari akan keadaan Andi segera membawa korban ke klinik terdekat.
Lambat laun, warga yang berada di sekitar kejadian segera membubarkan diri. “huufftt.. Akhirnya lega juga.” batinnya. Awan hitam di angkasa yang dihiasi petir yang menggelegar menyadarkan Andi bahwa ia sedang disuruh oleh Ibunya membeli sesuatu di warung Mak Inong. Ia pun berlari menuju warung Mak Inong. Sementara itu, Ibunya yang berada di rumah mulai mencemaskan anak bungsunya yang sedari tadi tak kunjung kembali ke rumahnya mengingat langit yang semakin gelap perlahan meneteskan rintikan hujan.
Sesampainya di warung Mak Inong, Andi berpikir sejenak, mengingat-ingat apa yang disuruh Ibunya beli. “Owh.. Ibu tadi menyuruhku membeli rinso” pikirnya. Ia pun memesan rinso pada Mak Inong “Mak, rinsonya 1 bungkus ya.” Mak Inong pun segera mengambilkan rinso untuknya. Disaat yang bersamaan, Andi melihat keadaan di luar warung yang telah hujan.
“Heh?!” Ia seolah tersadar dari keadaan “hari lagi hujan. Buat apa rinso? Masa’ iya Ibu mau nyuci? Bakso kali.. kan enak kalau makan bakso dingin-dingin gini. Eh, tapi tadi kayaknya Ibu nyuruh aku beli rinso lah. Aduh, gimana ni, bakso atau rinso…” bisiknya dalam hati.
“Ndi, ini rinsonya.” ucap Mak Inong sembari memberikan rinsonya.
“Aduh, Mak. Nggak jadi deh, beli baksonya aja 1 bungkus. Di bungkus ya Mak…” jawab Andi mengembalikan rinsonya.
“Kamu ini gimana sih, tadi katanya rinso sekarang bilang bakso.” jawab Mak Inong sedikit jengkel karena merasa dipermainkan oleh Andi.
“Hehe.. Salah Mak..” jawabnya mesam-mesem. Andi pun memberikan uang 10 ribu yang diberikan Ibunya tadi dan Mak Inong segera membungkuskannya untuk Andi. Kemudian uang kembali 5 ribu.
Setelah menerima bakso dan kembalian uang dari Mak Inong, Andi bergegas pulang ke rumahnya karena ia yakin Ibunya pasti mencemaskannya. Sesampainya di rumah, Ibunya berkata, “Kamu ini, kok lama sekali. Dari tadi Ibu tungguin juga. Ya sudah, mana rinsonya?”
“Hah?” jawab Andi dengan terpelongok, ekspresi wajah yang membuat orang terkekeh melihatnya. Gemetaran ia memberikan kantong plastik hitam yang ada digenggamannya.
“Andi… Ibu menyuruh kamu membeli rinso, bukan bakso…” geram Ibunya sembari menjewer kuping anaknya.
“Aduh-aduuhhh, ampun Bu.. Andi nggak ingat. Soalnya kan hujan. Jadi Andi pikir Ibu menyuruh beli bakso” Jawab Andi tertunduk merasa bersalah.
“Ya sudah, kamu ambil mangkuk sana di belakang. Kita makan bakso sama-sama.”
Andi pun berjalan pelan menuju dapur rumahnya untuk mengambil mangkuk. Ia kembali dengan memberikan mangkuk kepada Ibunya dan kemudian Ibunya menuangkan bakso ke dalam mangkuk tersebut.
Ibu: Enak juga Ndi baksonya..
Andi: ……

Jumat, 09 Januari 2015

cinta biasa

Cinta itu ibarat perang, berawalan dengan mudah namun sulit di akhiri.

Suatu hari, bermula dari pertemuan-pertemuan yang menyenangkan disekolah. Kebiasaan-kebiasaan ramah, saling bertatap wajah. Bercanda gurau habiskan masa-masa sekolah (dari tk, sd, smp, sampe sma) penuh suka, penuh gembira. Hingga akhirnya tercipta sebuah rasa yang dinamakan cinta.

***

Tak terasa masa-masa sekolah akan berakhir didepan mata. Masa muda yang penuh cita siap menantang dunia berupaya mengubah jalan cerita di hidupnya. Kemudian ada cinta yang merangkul rasa menemani ceria yang sebentar lagi akan berbalut luka. Karna akan berpisah selamanya.

Begini ceritanya,

Anatasha dan Reza, sejak kecil sampai remaja selalu bersama. Alasan apapun tak pernah membuat mereka berpisah. Tak pula mereka hanya sahabat saja, melainkan sejoli yang tangguh dan kokoh dalam cintanya.

Meski Reza tau Anatasha tak bisa bertahan hidup lebih lama darinya. Hal itu tak membuatnya goyah ataupun menyerah mencintai kekasihnya. Hanya saja, Reza tak kuasa menahan airmatanya manakala Anatasha memintanya pergi dan mencari pengganti dirinya yang tak sampai 1 bulan lamanya menikmati dunia.

Bukit berbunga, tepat dibelakang sekolah akan jadi saksi cinta mereka yang setia. Tempat favorit yang sering mereka kunjungi untuk mendengarkan lagu kesukaan bersama, belajar bersama, menikmati indahnya sunset yang jingga, tempat yang penuh akan kenagan manis mereka.

Itu semua akan jadi kenangan yang kemudian akan segera pudar sebagaimana tinta hitam yang melekat pada kertas putih kemudian terkena air lalu memudar dan akhirnya menghilang.
***

Ada pula cinta yang coba memaksa, datang menghantui Reza, memburamkan pandangannya agar Anastasha menghilang dari hatinya. Lantas cinta itu tak kuat merasuk ke hatinya hingga hilang dan berlalu begitu saja. Anatasha lah pemilik hati Reza seutuhnya. Hingga tak ada celah yang tersisa.

Tak sedikit air mata Reza yang tertumpah untuk Anatasha, manakala melihat tempat yang sering mereka lalui berdua hanya akan jadi kenangan.

Tak kalah hebat cinta Anatasha untuk Reza, korban rasa jadi hal biasa untuknya. Berpura-pura lupa telah mencinta, menyiksa hatinya demi kebohongan belaka. Hingga Reza tak terluka lagi dihatinya. Meski ceroboh tapi Anatasha melakukan yang terbaik untuk kekasihnya.

Tak terasa sampai pada waktu dimana 1 bulan kebersamaan mereka hanya tersisa 1 jam saja.

T ak banyak yang bisa dipersembahkan Reza untuk Anatasha yang waktunya hanya tersisa satu jam saja. Kemudian handphonenya berdering. Tak lama membuka handphone, airmatanya bercucuran di pipi. ‘waktu anda tersisa 1 jam’ begitulah tertulis pada catatan handphonenya. Pantas airmatanya berderai.

“Kenapa Reza menangis.”

“Aku hanya bahagia pernah berdampingan denganmu. Airmata ini sepertinya tulus keluar dari mataku,” Reza hanya tersenyum agar Anatasha tak mengkhawatirkan perasaannya.

“Meski itu bohong tapi aku bahagia mendengar ucapanmu,” tepisnya ragu perasaan Reza.

Reza hanya tersenyum. Kemudian bergerak, jalan menuju Anastasha.

“Hanya ada satu jam waktuku bersamamu, lalu apa yang kamu inginkan dariku? Apa aku harus melompat dari gedung tertinggi itu,” ujar Reza menunjuk gedung paling tinggi ditempat mereka berada, “Atau kamu mau aku menunggumu kembali?” lanjut Reza.

Airmata tulus mulai meleleh dari mata Anatasha. “Sudah saatnya cintamu diperbarui!!! Hari ini kurasa cintamu sudah sampai dibatas akhir.”

“Kalaupun kudapatkan kesempatan itu. Aku hanya ingin memperbarui cintaku dengan orang yang sama bukan dengan yang baru.”

“Bagaimana jika orang yang sama itu tiba-tiba menghilang?”

“Aku akan menunggunya kembali!!! Kapanpun aku menemukannya, aku akan mencintainya lagi. Seperti ini, iya benar-benar seperti ini.”

Anatasha menangis tanpa suara, melangkah tak bernada, kemudian bergerak, berdiri tepat membelakangi lelaki yang di cintainya.

“Waktumu hanya tersisa setengah jam. Lalu apa yang kamu inginkan dariku?”

“Gendong aku kemanapun kamu mau, kemudian bila aku diam, jangan pernah menoleh kebelakang. Jangan pernah berbalik melihatku, biarkan aku menghilang.”

“Sekali lagi aku mohon, saat aku tiada jangan pernah berbalik untuk mencariku, biarkan saja aku menghilang. Kumohon biarkan aku jadi bagian terindah dimasa lalumu. Biarkan aku tergantikan oleh orang lain.” Lanjut Anatasha terbata-bata dengan airmata yang membasahi pipinya.

“Bagaimana kubisa lakukan itu? Sementara sebentar saja aku tak melihatmu, aku berlari mencarimu. Mungkinkah aku bisa membiarkanmu pergi untuk selamanya? Aku tak akan menemukanmu lagi meski aku berlari lebih cepat dari biasanya.”

“Sebelum bertemu denganmu, aku hanya punya lem dan benang ditepian hatiku. Kemudian kamu datang merajut hatiku dengan benang itu, dan kamu kuatkan rajutan itu dengan lemnya. Lantas, bagaimana ia akan terbuka lagi?” lanjut Reza dengan airmata yang perlahan menetes.

“Biarkan ia sampai mengeras, tak lama ia akan pecah. Kemudian ada celah yang terbuka disana. Perlahan benangnya akan putus karna rapuh. Lalu ia sepenuhnya akan terbuka.”

“Tidak….! Jika benangnya putus dan hatiku terbuka, aku akan merajutnya kembali, meski itu menyakitkan. Tapi aku akan melakukannya.”

“Biarkan saja ia terbuka.” Suara Anatasha mulai letih, matanya terpejam. Tak lama badannya memberat.

Akhirnya, cinta mereka berhenti pada masa yang berbahagia. Dimana mereka saling tau apa yang dirasa, meski airmata yang jadi saksinya. Cukup yang dicinta tau apa yang di rasa, itu sudah cukup untuk bahagia.

blog: ciimumutz.blogspot.com